Showing posts with label Lounge. Show all posts
Showing posts with label Lounge. Show all posts

Cola Islami Melawan Hegemoni

Wednesday, May 11, 2011



Kendati Osama bin Laden memerangi AS, namun dia tak pantang meneguk minuman ringan simbol budaya AS: Coca-Cola. Padahal perlawanan terhadap AS pernah ditunjukkan dengan memboikot dan membuat minuman ringan tandingan.

Resep asli Coca-Cola, yang bahannya hanya berubah sedikit dan satu-satunya salinan tertulis dari resep itu disimpan dalam lemari besi bank di Atlanta, dirahasiakan selama bertahun-tahun. Ia dikembangkan di halaman belakang seorang dokter dan ahli kimia John Stith Pemberton.

Pemberton lahir 8 Januari 1831 di Knoxville, Crawford County, Georgia. Dia dikenal sebagai “dokter paling terkenal yang pernah dimiliki Atlanta.” Namun, yang melambungkan namanya justru keahliannya di laboratorium, “di mana dia menyempurnakan resep Coca-Cola,” tulis Monroe Martin King dalam situs The New Georgia Encyclopedia, 14 Mei 2004.

Menurut liputan Business Heroes Newsletter, Juli 1998, Pemberton adalah sosok yang terobsesi untuk menemukan obat sekaligus minuman yang sempurna. Suatu ketika dia tertarik dengan khasiat tanaman koka –yang telah dikunyah penduduk asli Peru dan Bolivia selama lebih dari 2.000 tahun– untuk stimulan, membantu pencernaan, afrodisiak (meningkatkan gairah bercinta), dan memperpanjang umur. Dia pun memutuskan untuk mencoba daun koka sebagai bahan dasar minumannya. Sebelumnya, daun koka telah digunakan sebagai bahan anggur bermerek Vin Mariani, yang meraih sukses besar di Eropa dan AS.

Pada 1885, Pemberton meluncurkan minumannya: Pemberton’s French Wine Coca. Dia mengiklankan produknya sebagai “minuman intelektual” dan “energi untuk otak”. Pemberton menjelaskan ramuan minumannya kepada Atlanta Journal pada 1885, “Ini terdiri dari ekstrak daun koka Peru, anggur paling murni, dan kacang kola. Ini yang paling baik dari semua tonik. Membantu pencernaan, memberikan energi ke organ-organ respirasi, dan memperkuat otot dan sistem saraf.”

“Pemberton lalu mengakui bahwa minumannya didasarkan pada Vin Mariani…,” tulis Martin King.

Menurut Laura Lambert, “John Pemberton: Inventor of Coca-Cola”, dalam Marshall Cavendish, Inventors and Inventions, meski yang membuat resepnya adalah Pemberton, tapi merek dan logo Coca-Cola diciptakan oleh Frank Robinson, penata buku Pemberton. “Robinson mengembangkan nama alternatif Coca-Cola, dan mengubah k dari Kola nut menjadi c, untuk menambahkan efek visual. Dia juga yang menggoreskan huruf C, yang masih mendefinisikan merek itu saat ini,” tulis Laura Lambert.

Coca-Cola kali pertama dijual di toko obat Jacob’s Pharmacy di Atlanta, pada 7 Mei 1886 –tanggal ini dijadikan hari jadi Coca-Cola. Penjualan tertingginya hanya 13 gelas per hari dengan harga lima sen per gelas. Padahal saat itu Atlanta sedang musim panas. Pada tahun pertamanya penjualan Coca-Cola tersendat. Belum juga merasakan kesuksesan, Pemberton sakit, bahkan sekarat, akibat kanker dan kecanduan morfin –yang dikenalnya ketika terluka dalam Perang Sipil. Saat itulah ahli farmasi Asa Griggs Candler membeli saham Coca-Cola pada awal 1888. Dua minggu setelah kematian Pemberton pada 16 Agustus 1888, Candler membeli sisa sahamnnya.

Pada 1892, Candler dan sebuah konsorsium membangun Coca-Cola Company. Setelah logo Coca-Cola didaftarkan pada 1893, Candler mulai menawarkan sampel dan mengembangkan serangkaian produk seperti jam, kalender, dan timbangan kimia yang memasang logo Coca-Cola. Dia juga gila-gilaan dalam beriklan; beberapa di antaranya dibintangi para penyanyi opera yang glamor. Strategi iklan “orang-orang keren” berlanjut sampai sekarang.

Menurut Laura Lambert, pada 1903, muncul skandal karena terdapat kokain dalam Coca-Cola, walau dalam jumlah kecil. Meski Candler mengubah resep untuk menghapus kokain dengan menambahkan asam sitrat, minuman ini terus memiliki reputasi negatif sehingga Biro Federal Kimia mengirim agennya ke Atlanta untuk menyelidiki pengaruh minuman Coca-Cola pada 1907. Laporannya menjelaskan “Coca-Cola iblis” berkeliaran di jalanan dan menyatakan keprihatinan yang mendalam karena anak-anak berumur empat tahun diizinkan mengkonsumsi minuman ini. “Delapan Coca-Cola mengandung cukup kafein untuk membunuh,” demikian berita utama media massa saat itu.

Dalam kondisi usaha goyah, Candler terpukul mengetahui istrinya menderita kanker payudara. Dia ditawari US$25 juta untuk menjual perusahaannya tapi dia menolak. Dia memutuskan mewariskan perusahaannya kepada anak-anaknya. Candler terpukul untuk kali kedua karena anak-anaknya menjual perusahaan itu pada 1919 seharga US$25 juta pada sebuah konsorsium yang dipimpin pebisnis Ernest Woodruff.

Empat tahun kemudian, Woodruff memasrahkan Coca-Cola kepada anaknya, Robert Winship Woodruff, yang memimpin Coca-Cola selama 31 tahun dan membawanya tersebar ke seluruh dunia.

Yang menarik adalah bagaimana Coca-Cola merambah Timur Tengah. Di kawasan ini, keberhasilan sebuah bisnis sering tergantung pada sentimen anti-Israel. Untuk menghindari boikot Liga Arab dan tetap bisa menjual ke pasar Arab yang besar, Coca-Cola menghentikan rencananya membangun pabrik di Israel pada 1949. Namun, pada 1961, seorang pegawai negeri di Mesir, Mohammad Abu Shadi, bilang menemukan Coca-Cola bertuliskan Amharic (bahasa Israel) yang diproduksi di Ethopia. Coca-Cola juga dituding melakukan bisnis dengan Israel. Manajer operasional Coca-Cola Mesir segera menepisnya bahwa Coca-Cola tak mungkin melakukan bisnis dengan Israel karena pasarnya terlalu kecil.

Pada 1 April 1966, Moshe Bronstein, seorang pengusaha Tel Aviv, menuduh Coca-Cola memboikot Israel karena tak mau berbisnis dengan Israel demi memenuhi tuntutan pasar Arab. Liga Anti-Fitnah –NGO anti-Semit yang berbasis di AS– mempertanyakan: jika Coca-Cola bisa beroperasi di Siprus, yang hanya sepersepuluh ukuran Israel, mengapa Israel terlalu kecil untuk operasi Coca-Cola?

Khawatir akan tekanan dari Yahudi AS, Coca-Cola pun berjanji membuka pabrik di Tel Aviv. Sebagai tanggapan, Liga Arab memboikot Coca-Cola pada Agustus 1968 (sampai Mei 1991), sebagai bagian dari boikot ekonomi Israel.

Pesaingnya, Pepsi, justru menikmati kesuksesan, bahkan monopoli. “Pepsi jauh lebih mapan di Timur Tengah daripada Coca-Cola, dan dalam hal respons tidak terlalu reaktif. Ini bukannya lebih bergantung pada kenyataan bahwa mereka telah ada 20 tahun lebih lama dari Coca-Cola,” tulis Sarah Diston, “Cola giants continue battle for Middle East market”, yang dimuat www.just-drinks.com, 6 April 2001.

Pada 1990-an sanksi akhirnya dicabut dan Coca-Cola diizinkan berdagang secara bebas di negara-negara Arab. Tapi ia masih menghadapi perjuangan berat dan, untuk sementara, penghinaan karena dijuluki konsumen Arab sebagai “Pepsi merah”. Upaya untuk menghancurkan Coca-Cola, melalui rumor maupun boikot, juga tak pernah surut.

Pesaing baru juga bermunculan. Iran mengawalinya dengan membuat Zam Zam Cola. Awalnya, ini adalah anak perusahaan Pepsi Iran pada 1954. Setelah revolusi Islam Iran 1979, Pepsi dinasionalisasi oleh pemerintah Iran dan mereknya diganti menjadi Zam Zam Cola sebagai bentuk perlawanan terhadap AS dan produk-produknya. Hingga saat ini, Zam Zam Cola menjadi minuman populer di Iran, Pakistan, dan negara-negara Arab lainnya. Ia juga dijual di sejumlah wilayah di Eropa yang memiliki pemeluk Muslim besar. Banyak konsumen memilihnya bukan karena rasanya tapi karena percaya bahwa Coca-Cola dan Pepsi dikendalikan oleh kepentingan Barat.

Dengan alasan serupa, belakangan muncul produk serupa seperti Mecca Cola di Prancis, Qibla Cola dan Evoca Cola di Inggris, atau Qolbu Cola yang dibikin Manajemen Qolbu milik Ustad Abdullah Gymnastiar di Indonesia. Uniknya Evoca Cola mengandung habbatussauda, obat manjur asli Arab.

Coca-Cola dan produk sejenisnya bukan lagi sekadar minuman menyegarkan. Seperti diharapkan Pemberton, mereka juga menjadi “obat penyejuk hati”.


Penulis: HENDRI F. ISNAENI

(Sumber: Majalah Historia)

Bom di Tengah Konferensi Asia-Afrika

Wednesday, April 27, 2011

 Ilustrasi: Majalah Historia

Sebuah pesawat meledak di kepulauan Natuna dan nyaris menggagalkan Konferensi Asia-Afrika di Bandung.

KASHMIR Princess, sebuah pesawat carteran milik Air India berjenis Lockheed L-7492A, lepas landas dari Bandara Kai Tak, Hong Kong, pada 11 April 1955. Sebelumnya, ia mengisi bahan bakar dan menjalani pemeriksaan rutin usai menempuh perjalanan dari Bombay, India. Pesawat membawa delegasi China, juga wartawan dari berbagai negara, yang akan menghadiri Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Rencananya, pesawat itu pula yang akan mengangkut Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri China Zhou Enlai.

Sekira lima jam perjalanan, pada jam tujuh malam, kru mendengar ledakan. Api berhembus ke arah lubang tangki bahan bakar nomor tiga. Dengan cepat pilot mematikan mesin nomor tiga, menyisakan tiga mesin yang menggerakkan pesawat. Dalam waktu sepuluh menit, situasi memburuk. Penumpang ngeri melihat api mulai melahap sayap pesawat dan membayangkan kematian di depan mata. Asap juga memasuki kabin dan kokpit. Kru sempat mengirimkan sinyal bahaya; memberi tahu posisi mereka di atas Kepulauan Natuna, sebelum radio terputus.

Tak ada pilihan bagi pilot kecuali mencoba mendaratkan pesawat di laut. Para kru mengeluarkan jaket pelampung dan membuka pintu darurat. Pesawat menghujam ke laut. Sayap kanan menghantam air terlebih dahulu, merobek pesawat menjadi tiga bagian. Enambelas orang tewas. Tiga orang selamat: Anant Shridhar Karnik, teknisi perawatan pesawar Air India International Cooperation; kapten perwira pertama Dixit; dan navigator penerbangan J.C. Pathak.

“Kami jatuh ke dalam air. Ketika saya menyembul ke permukaan, ada api besar di laut. Mr Dixit mengalami patah tulang di bagian leher sementara tangan saya patah. Arus sangat kuat. Kami, entah bagaimana, berenang selama sembilan jam di perairan gelap hingga akhirnya mencapai pantai... Kami akhirnya diselamatkan penduduk setempat, memakai kapal ke Singapura, kemudian dibawa ke Mumbai oleh kapal Angkatan Laut Inggris atas perintah Pandit Nehru,” kenang Karnik seperti dimuat Asian Age, 9 April 2005. Karnik menerbitkan buku tentang insiden ini berjudul Kashmir Princess.

Sehari setelah insiden itu, Kementerian Luar Negeri China mengeluarkan pernyataan yang menuding keterlibatan dinas rahasia Amerika Serikat (CIA) dan Ching Kai-shek. Mereka, sebagaimana dikutip dari Steve Tsang, The Cold War’s Odd Couple, “berencana menyabot pesawat carteran Air India, menjalankan rencana mereka untuk membunuh delegasi kami ke Konferensi Bandung yang dipimpin oleh Perdana Menteri Zhou Enlai, dan untuk menggagalkan Konferensi Bandung.”

Chiang Kai-shek adalah pemimpin Koumintang –juga dikenal dengan nama KMT atau Partai Nasionalis China– yang berhadapan dengan kubu komunis pimpinan Mao Zedong dalam perang saudara. Mao memenangi perang dan memproklamasikan Republik Rakyat China (RRC) pada 1949 sementara Chiang Kai-shek melarikan diri ke Pulau Formosa atau Taiwan.

Pemerintah Indonesia, juga peserta konferensi, terhenyak mendengar kabar kecelakaan itu. Mereka tak ingin konferensi terganggu karena sudah merancangnya jauh-jauh hari; dari usulan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pada 1953, Konferensi Kolombo di Sri Lanka pada April 1954, hingga pematangannya dalam Konferensi Bogor pada Desember 1954. Mereka akhirnya bisa bernafas lega ketika tahu Zhou Enlai tak berada dalam pesawat naas itu.

Untuk menyelidiki penyebab kecelakaan, pemerintah Indonesia membentuk komisi penyelidikan. Komisi mewawancarai sejumlah saksi mata, mengunjungi lokasi kejadian, melakukan pencarian fakta di Singapura, Jakarta hingga Hong Kong, serta menelisik reruntuhan pesawat.

Pada 26 Mei, setelah menyelamatkan hampir 90% reruntuhan pesawat di perairan dangkal Pulau Natuna di Laut Cina Selatan, komisi mengatakan bahwa mereka menemukan “bukti positif adanya sebuah ledakan di roda depan bagian kanan pesawat yang disebabkan bom waktu,” tulis majalah Time, 6 Juni 1955. Kesimpulannya: sabotase.

Bom berjenis detonator MK-7 buatan Amerika dan besar kemungkinan dipasang ketika pesawat berada di Hong Kong. Bom itu hanya bisa dipasang oleh seseorang dengan akses ke pesawat ketika berada di Bandara Kai Tak, di mana pemerintah RRC telah meminta pemerintah Hong Kong untuk melindunginya. Artinya, ini bukan kecelakaan biasa melainkan upaya pembunuhan dengan target Zhou Enlai. Tak jelas siapa yang menempatkan bom itu.

Pengumuman itu mengejutkan pemerintah Hong Kong. Mereka menawarkan HK $ 100.000 (hadiah tertinggi yang pernah ditawarkan di Hong Kong) atas informasi pelaku dan menginterogasi 71 orang yang berhubungan dengan perawatan pesawat.

Menariknya, Zhou Enlai bukan tak tahu upaya pembunuhan atas dirinya. “Bukti sekarang menunjukkan bahwa Zhou mengetahui rencana itu sebelumnya dan diam-diam mengubah rencana perjalanan, kendati dia tak menghentikan sebuah delegasi kader yang lebih rendah untuk mengambil tempatnya,” tulis Steve Tsang dari Universitas Oxford dalam “Target Zhoe Enlai”, yang dimuat China Quarterly edisi September 1994.

Mulanya, untuk membawa delegasi ke Konferensi Asia-Afrika, Peking menyewa Kashmir Princess yang berkapasitas lebih dari 100 penumpang. Para agen Taiwan tampaknya menduga bahwa pesawat itu akan membawa Zhou dan membuat rencana untuk meletakkan bom pada pesawat itu di bandara Hong Kong.

Peking maupun Zhou Enlai memiliki semua detail rencana itu. Tapi mereka membiarkan operasi itu berlanjut tanpa memberi tahu Air India, utusan Inggris di Peking, pemerintah Hong Kong, dan para penumpang pesawat. Mao menyuruh Zhou mengubah rute dan tak naik pesawat itu. Rencana perjalanan Zhou disimpan rapat-rapat. Penjelasan resmi atas perubahan itu: Zhou terkena radang usus buntu dan perlu operasi.

“Kerahasiaan perjalanan Zhou menyelamatkan jiwanya dan malapetaka bagi Kashmir Princess. Pesawat Air India itu pula yang dijadwalkan terbang ke Rangoon menjemput Zhou untuk perjalanan ke Indonesia,” tulis www.chinadaily.com, 21 Juli 2004.

Pada 7 April, Zhou bersama delegasi meninggalkan Beijing dan tiba di Kunming. Dia bermaksud menghabiskan beberapa hari di sana untuk mempersiapkan diri dalam Konferensi Asia-Afrika dan memulihkan diri pascaoperasi. Empat hari kemudian mereka mendengar berita ledakan pesawat Kashmir Princess. Mereka berdukacita dan memberikan penghormatan bagi para korban.

“Kami merasa persoalan menjamin keamanan Perdana Menteri Zhou sangat serius,” tulis Huang Hu, diplomat China yang loyal pada Zhou Enlai, dalam memoirnya, seperti dimuat www.globaltimes.cn. “Wakil Perdana Menteri Chen Yi mengatakan kepada semua komrad untuk memperhatikan keamanan Perdana Menteri Zhou. Dia mengatakan kita semua adalah pengawalnya. Dalam suratnya kepada istrinya, Deng Yingchao, Perdana Menteri Zhou kemudian mengatakan bahwa bahaya tak dapat dihindari dalam pertempuran militer dan juga perempuran sipil.”

Pada 14 April, Zhou terbang ke Rangoon, ibukota Burma untuk bertemu dengan Perdana Menteri U Nu, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, serta perdana menteri dari Mesir, Pakistan, Ceylon, dan Vietnam sebelum melanjutkan ke Bandung.

Mengapa Zhou tak bertindak untuk mencegah kecelakaan? Tujuannya: mendesak otoritas Hong Kong untuk menindak jaringan rahasia agen-agen Koumintang di Hong Kong.

“Segera setelah kecelakaan itu, Zhou mengatakan kepada pemerintah Inggris bahwa mereka bisa mengandalkan dukungannya dalam penyelidikan, jika mereka bersedia bekerjasama dalam menghancurkan jaringan spionase. Secara politik, ini akan meningkatkan hubungan antara Inggris Raya dan China, membangun kemajuan yang dicapai dalam (Konferensi) Jenewa,” tulis Barbara Barnouin dan Yu Changgen dalam Zhoe Enlai: A Political Life.

Menurut Jung Chang dalam Mao: Kisah-kisah yang Tak Diketahui, Peking segera menyatakan bahwa agen-agen Taiwan memasang bom di pesawat itu. Zhou Enlai lalu memberi Inggris nama-nama yang menurut Peking harus diusir dari Hong Kong. Inggris menyetujui dan sepanjang tahun berikutnya mendeportasi lebih dari 40 agen Nasionalis penting yang tercantum dalam daftar Zhou, meski di pengadilan tak ada cukup bukti untuk menuntut mereka dengan tuduhan tindak kejahatan. Ini membuat sebagian besar jaringan Chiang Kai-sek di Hong Kong lumpuh.

Lantas, siapa pemasang bom itu? Menurut Steve Tsang, yang menelusuri arsip-arsip Inggris, Taiwan, Amerika, dan Hong Kong, agen-agen Kuomintang yang beroperasi di Hong Kong sebagai pelaku pemboman –dokumen China yang sudah dibuka untuk publik pada 2005 juga menunjukkan dinas rahasia Koumintang bertanggung jawab atas pengeboman. Pada Maret 1955, mereka merekrut Chow Tse-ming alias Chou Chu, yang menjadi tukang bersih Hong Kong Aircraft Engineering Co sejak 1950. Nasionalis menawarkan uang dalam jumlah fantastis untuk ukuran saat itu sebesar HK$ 600.000 (saat ini sekira Rp 700 juta) dan tempat perlindungan di Taiwan, jika perlu.

Sialnya, Chow bukanlah orang yang cerdik. Dia membual kepada temannya tentang apa yang dia lakukan. Dia juga menghabiskan uang dalam jumlah besar. Setelah empat bulan mencari jejak, polisi Hong Kong mengeluarkan surat perintah untuk menangkap Chow. Tapi ketika polisi hendak menangkapnya, Chow melarikan diri naik pesawat Civil Air Transport milik CIA dalam penerbangan ke Taiwan. Konsul Inggris di Taiwan menuntut Chow dikembalikan ke Hong Kong untuk diadili, tapi Nasionalis menolak.

Bagaimana dengan keterlibatan CIA? Seperti halnya Chiang Kai-shek, “Amerika takut konferensi akan sukses dan menjadi pemersatu dan oposisi bagi imperialisme and kolonialisme. Pemerintah Amerika meminta para kepala misi diplomatik di seberang lautan untuk merencanakan sebuah konspirasi, dan membuat sebuah rencana untuk menyabotase konferensi itu. Mereka berupaya agar konferensi hanya membicarakan masalah budaya dan ekonomi dengan mengesampingkan masalah politik dan pelucutan senjata, dan menjadikannya pembicaraan minum teh di sore hari. Mereka mengirim sekira 70 koresponden untuk menyebarkan rumor dan distorsi demi menyabotase konferensi,” tulis Huang Hua.

Menurut Steve Tsang, CIA tak terlibat, meski awalnya juga punya rencana untuk menghabisi Zhou Enlai. Ketika diangkat menjadi wakil direktur CIA pada 1954, Jenderal Lucian Truscott menemukan bahwa CIA berencana membunuh Zhou Enlai. Selama perjamuan akhir di Bandung, seorang agen CIA akan membubuhkan racun ke mangkuk nasi Zhou yang tak akan bereaksi selama 48 jam hingga Zhou kembali ke China. Truscott menghadap Direktur CIA Allen Dulles dan memaksanya menghentikan operasi itu.

Dalam Konferensi Asia-Afrika, Zhou Enlai menjadi bintang. Dengan tenang dia menangkis pidato delegasi negara lain yang menyerang China dan komunisme. Zhou juga menjadi pendamai ketika terjadi kebuntuan antara negara-negara yang berpihak dan negara-negara bebas-aktif. Zhou pula yang mengusulkan suatu Deklarasi Perdamaian. Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung 18-24 April di Gedung Merdeka, Bandung, berjalan lancar dan menghasilkan dokumen penting yang disebut Dasasila Bandung.

Ledakan pesawat Kashmir Princess, yang merupakan upaya pembunuhan atas Zhou Enlai, menjadi warna pedih dalam upaya perdamaian dunia yang diusung Konferensi Asia-Afrika.

__________
Oleh: BUDI SETIYONO

(Sumber: Majalah Historia)

Mengenang Anak Demang (Mengenang Rosihan Anwar (Bagian III)

Friday, April 15, 2011

 Fhoto: Majalah Historia

Jumat. 15 April 2011

Mengenang Rosihan Anwar (Bagian III)
Mengenang Anak Demang


Dia melintasi zaman demi zaman. Mencatat dan mengenang. Dan kini dia dikenang.


PADA 1992, Rosihan Anwar beserta keluarga mudik ke Sumatera Barat. Anak-anak dan cucunya dibesarkan di Jakarta. Mereka asing terhadap keadaan dan budaya Ranah Minang. “Karena itu, saya bawa keluarga meninjau Sumatera Barat,” kata Rosihan dalam Petite Histoire IV.


Di simpang tiga dekat pasar mobil, di Dangung-dangung tak jauh dari Payakumbuh, Rosihan menyambangi sebuah rumah batu bercat putih. Rumah itu bagaikan tak berpenghuni lagi kumuh. Rosihan mengetok pintu berkali-kali tapi tiada yang menyahut. 


Anak dan cucu-cucunya bertanya, kenapa Rosihan ke rumah kumuh itu? Rumah itu punya siapa? “Opa cari apa di sana?” Tanya seorang cucunya.


Pada 1927, Rosihan tinggal di rumah itu, yang di zaman Hindia Belanda menjadi rumah jabatan asisten demang. “Saya ingat sebuah foto rumah itu,” katanya. Di depan pintu, Rosihan berdiri pakai baju dan celana pendek di dekat ibunya, Siti Safiah, yang menggendong adiknya, Rohana, berusia satu tahun. Ayahnya, Anwar gelar Maharadja Soetan, Asisten Demang Dangung-dangung, yang memakai pakaian formal ambtenaar Binnenlands Bestuur jas tutup, dengan kancing besar bertuliskan W (inisial Ratu Belanda, Wilhelmina), di kepalanya topi pet warna putih; berdiri disamping ibunya.


“Bila dilihat wajah saya di  foto berwarna sepia, tampak dari lubang kiri hidung keluar ingus yang dibiarkan saja tanpa menyekanya dengan sapu tangan,” kenang Rosihan.


Pada 1928, ayahnya pindah ke Pauh Sembilan, tak jauh dari Kota Padang. Di sana, jabatannya masih asisten demang. Dua tahun kemudian, naik pangkat menjadi demang dan ditempatkan di Talu Pasaman, berbatasan dengan Mandailing, Tapanuli Selatan. Ketika Rosihan sekolah Meer Uitgebreid Lager Ondrewijs (MULO) pada 1939, ayahnya menjabat Demang Maninjau. Kemudian dipindahkan lagi ke Sungai Penuh, Kerinci, yang dulu bagian Sumatera Barat (kini wilayah Provinsi Jambi), pos terakhir ayahnya.


Rosihan Anwar lahir di Kubang Nan Dua, Sirukam, Solok, Sumatera Barat, pada 10 Mei 1922. Di masa itu ayahnya telah membaca dan kagum pada perjuangan Kemal Mustafa Pasha, yang kemudian terkenal sebagai Kemal Ataturk atau Kemal “Bapak Turki”, yang melancarkan serangan terhadap tentara Yunani di Smyrna. Salah seorang jenderal yang berada di bawah komando Kemal Pasha ialah Rozehan Pasha. Maka dia pun menamai anaknya Rozehan Anwar.


Ketika mulai masuk sekolah dasar yaitu Hollands Indische School (HIS) di Padang, nama Rozehan Anwar dieja menjadi Rosehan Anwar, dan bertahun-tahun kemudian berubah lagi menjadi Rosihan Anwar.


Di zaman kolonial, terdapat sekolah untuk menjadi pegawai pamongpraja, yakni Middlebare Opleiding School Voor Inlandsche Bestuur Ambtenare (MOSVIA) di Bandung. Meski tak pernah mengutarakannya, ayahnya ingin Rosihan masuk MOSVIA setamat MULO. Tapi Rosihan lebih memilih masuk Algemene Middelbare School Westers Klassieke Afdeling (AMS-A) di Yogyakarta pada 1942. “Tidak ada suratan di tangan saya bahwa saya akan mengikuti jejak ayah dan menjadi pegawai pamong praja,” katanya.


Pada zaman kolonial, jumlah sekolah menengah atas hanya delapan buah. Tak gampang masuk AMS karena biayanya mahal, 14,5 gulden per bulan atau lebih besar daripada gaji juru tulis yang hanya 10 gulden. Kalau ayahnya bukan demang, mana bisa Rosihan sekolah di sana. Selain itu, otak mesti sedikit cerdas. Jika tidak, mana bisa lulus ujian masuk.


Rosihan bercita-cita meneruskan belajar ke Universitas Leiden, Belanda. Karenanya dia memilih jurusan Sastra Klasik Barat. Dia belajar bahasa Latin dan budaya Yunani. Cita-cita ini tak pernah kesampaian karena perang antara Belanda dan Jepang pecah pada akhir 1941.


Rosihan lalu pindah ke Jakarta. Dia mesti bekerja karena kiriman wesel dari ayahnya berhenti. Di suratkabar, ada pengumuman mencari pemuda-pemuda tamatan sekolah menengah atas untuk mengikuti kursus kilat menjadi jaksa yang dilakukan pemerintah Jepang. Lama latihan enam bulan. Selama belajar mendapat tunjangan Rp50. Dia lulus ujian dan siap masuk asrama.


Pertemuannya dengan dr Abu Hanifah, yang bekerja di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ) atau sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengubah segalanya. Abu Hanifah memberikannya pendidikan politik. Dia pula yang, setelah bicara dengan Sukardjo Wirjopranoto, tokoh Parindra dan anggota Volksraad di zaman Belanda yang jadi pemimpin umum suratkabar Asia Raya, menawari Rosihan jadi wartawan. Rosihan tak pernah bercita-cita jadi wartawan. Namun dia terima saran Abu Hanifah dan sejak Maret 1943 mulai bekerja sebagai wartawan.


Rosihan bekerja di Asia Raya dengan tugas ganda. Sebagai asisten Yoshio Nakatani, dia bertugas mengoreksi terjemahannya ke bahasa Indonesia. Lalu menjadi deskman berita luar negeri yang redakturnya B.M. Diah.


Di Asia Raya Rosihan bertemu seorang gadis Betawi yang cantik, Siti Zuraida Sanawi, atau bisa dipanggil Ida Sanawi. Ida adalah sekretaris redaksi sekaligus sekretaris pemimpin umum Asia Raya. Cinta bersemi hingga ke pelaminan pada 25 April 1947 (Ida berpulang pada 5 September 2010).


Di masa ini, bersama Usmar Ismail, dan atas dorongan dr Abu Hanifah, dia mendirikan perkumpulan sandiwara penggemar atau amatir bernama Maya pada Juli 1944. Rosihan jadi ketua perkumpulan. Maya berbeda dari rombongan sandiwara lainnya. Ia berani merintis cara-cara baru dalam permainan pelaku, pengaturan lampu, hingga pembuatan dekor. Dengan teratur, dua bulan sekali Maya mengadakan pertunjukan. Gedung Kesenian Pasar Baru selalu ramai. Karcis selalu habis. Perkumpulan ini mementaskan lakon Taufan di Atas Asia, Liburan Seniman, Mutiara dari Nusalaut, serta sejumlah gubahan Kleine Eyolt, Intelek Istimewa, dan Dewi Reni. Perkumpulan ini juga mempertunjukkan Konser Indonesia yang dipimpin Kusbini dan Opera Madah Kelana oleh Cornel Simandjuntak.


Tapi waktunya kemudian dihabiskan di dunia kewartawanan, dan membunuh kemungkinannya menjadi novelis dan penyair serta aktor, meski kemampuan itu tidak dia tinggalkan sepenuhnya.


Pada akhir zaman Jepang, posisi Rosihan di Asia Raya adalah reporter politik. Setelah proklamasi, Asia Raya terbit sebentar sampai sekira awal September 1945. Kemudian orang-orang yang bekerja di Asia RayaDe Unie di Yamato Bashi Kita Doori 8 –kelak bernama Jalan Hayam Wuruk. Ini percetakan milik pengusaha Metzelaar dan suratkabar Belanda Java Bode yang selama pendudukan Jepang digunakan untuk mencetak Asia Raya. Kemudian mereka menerbitkan suratkabar Merdeka pada 1 Oktober 1945. Pemimpin umum serta pemimpin redaksinya B.M. Diah. Rosihan menjadi redaktur pertama. Namun, karena tak seide dengan B.M. Diah, Rosihan keluar dari Merdeka pada 1946. mengambil-alih Percetakan


Pada 4 Januari 1947, bersama Soedjatmoko, Rosihan mendirikan majalah politik, Siasat. Penerbitannya disokong oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir, berupa bantuan modal dan kertas cetak yang jumlahnya tidak banyak. Selebihnya mandiri. Selagi Rosihan memimpin Siasat, pemilik suratkabar Pemandangan, Haji Djunaidi menawarinya membuat sebuah koran. Terbitlah Pedoman. Baru dua bulan terbit, koran ini dibredel Belanda karena membela Republik. Setelah perjanjian Roem-Royen pada Juli 1949, Pedoman terbit kembali.


Setelah Pedoman dibredel pada 7 Januari 1961, Rosihan menjadi koresponden beberapa suratkabar asing seperti The Age (Melbourne, Australia), Hindustan Times (New Delhi, India), kantor berita World Forum Features (London, Inggris), dan Asiaweek (Hong Kong); hingga Pedoman kembali dihidupkan pada 1968.


Dalam Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Palembang pada 1970, Rosihan terpilih menjadi ketua umum dan Jakob Oetama sebagai sekretaris jenderal. Dia mengalahkan B.M. Diah dan Manai Sophiaan. Tapi pemerintah tak merestui. Menteri Penerangan Boedihardjo lebih mengakui Diah dan Manai. PWI pun terbelah.


Rosihan melihat keterlibatan Operasi Khusus Intel yang dipimpin Ali Moertopo di belakang pencalonan Diah. Opsus selalu mencampuri urusan intern organisasi politik dan organisasi masyarakat dengan tujuan memasukkan orang-orang yang diandalkan pemerintah. Sekiranya sejak semula tahu Rosihan mengaku akan menolak pencalonan dirinya.


Perpecahan PWI ini berimbas juga ke cabang-cabang. Polemik hebat juga terjadi di kalangan media cetak nasional. Media massa yang dikontrol pemerintah di Jakarta tidak menyiarkan semua berita mengenai pengurus Rosihan Anwar. Tapi, suara yang mendukung Rosihan ternyata tetap mayoritas, seperti halnya dalam kongres di Palembang.


Melalui perundingan yang melibatkan mantan wartawan seperti Menteri Luar Negeri Adam Malik dan Soemanang tercapai kesepakatan untuk menggabungkan dua kepengurusan itu pada 6 Maret 1971. Bagi Rosihan, Kongres di Palembang ini merupakan perlawanan terakhir para wartawan terhadap intervensi pemerintah. Setelah itu terbuka jalan bagi penjinakkan PWI. Ini terbukti dalam Kongres PWI di Tretes pada 1973 yang menaikkan Harmoko sebagai ketua PWI Pusat.


Sementara itu Rosihan masih mengurus Pedoman, yang terbit lagi tak lama setelah Sukarno jatuh. Setelah peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974), Pedoman kena bredel untuk kali terakhir pada 15 April 1974. Setelah itu Rosihan kembali lagi jadi penulis lepas untuk The Straits Times, New Straits Time, Asiaweek, dan Hindustan Times. Dia juga menulis opini dan menjadi kolomnis di berbagai koran, tabloid, dan majalah.


Rosihan menulis lebih dari 30 buku mengenai berbagai topik, seperti jurnalistik, agama, politik, dan sejarah. Ketika menulis tentang ayahnya di Petite Histoire IV, Rosihan mengutip judul buku Marthias Dusky Pandu: Anan Takan, artinya apa yang terkenang. Di akhir hayatnya, dia mencoba menulis buku tentang istrinya.

(*)Oleh: Hendri F. Isnaeni
Sumber: Majalah Historia 


Artikel Terkiait: