Showing posts with label Lounge. Show all posts
Showing posts with label Lounge. Show all posts

Cola Islami Melawan Hegemoni

Wednesday, May 11, 2011



Kendati Osama bin Laden memerangi AS, namun dia tak pantang meneguk minuman ringan simbol budaya AS: Coca-Cola. Padahal perlawanan terhadap AS pernah ditunjukkan dengan memboikot dan membuat minuman ringan tandingan.

Resep asli Coca-Cola, yang bahannya hanya berubah sedikit dan satu-satunya salinan tertulis dari resep itu disimpan dalam lemari besi bank di Atlanta, dirahasiakan selama bertahun-tahun. Ia dikembangkan di halaman belakang seorang dokter dan ahli kimia John Stith Pemberton.

Pemberton lahir 8 Januari 1831 di Knoxville, Crawford County, Georgia. Dia dikenal sebagai “dokter paling terkenal yang pernah dimiliki Atlanta.” Namun, yang melambungkan namanya justru keahliannya di laboratorium, “di mana dia menyempurnakan resep Coca-Cola,” tulis Monroe Martin King dalam situs The New Georgia Encyclopedia, 14 Mei 2004.

Menurut liputan Business Heroes Newsletter, Juli 1998, Pemberton adalah sosok yang terobsesi untuk menemukan obat sekaligus minuman yang sempurna. Suatu ketika dia tertarik dengan khasiat tanaman koka –yang telah dikunyah penduduk asli Peru dan Bolivia selama lebih dari 2.000 tahun– untuk stimulan, membantu pencernaan, afrodisiak (meningkatkan gairah bercinta), dan memperpanjang umur. Dia pun memutuskan untuk mencoba daun koka sebagai bahan dasar minumannya. Sebelumnya, daun koka telah digunakan sebagai bahan anggur bermerek Vin Mariani, yang meraih sukses besar di Eropa dan AS.

Pada 1885, Pemberton meluncurkan minumannya: Pemberton’s French Wine Coca. Dia mengiklankan produknya sebagai “minuman intelektual” dan “energi untuk otak”. Pemberton menjelaskan ramuan minumannya kepada Atlanta Journal pada 1885, “Ini terdiri dari ekstrak daun koka Peru, anggur paling murni, dan kacang kola. Ini yang paling baik dari semua tonik. Membantu pencernaan, memberikan energi ke organ-organ respirasi, dan memperkuat otot dan sistem saraf.”

“Pemberton lalu mengakui bahwa minumannya didasarkan pada Vin Mariani…,” tulis Martin King.

Menurut Laura Lambert, “John Pemberton: Inventor of Coca-Cola”, dalam Marshall Cavendish, Inventors and Inventions, meski yang membuat resepnya adalah Pemberton, tapi merek dan logo Coca-Cola diciptakan oleh Frank Robinson, penata buku Pemberton. “Robinson mengembangkan nama alternatif Coca-Cola, dan mengubah k dari Kola nut menjadi c, untuk menambahkan efek visual. Dia juga yang menggoreskan huruf C, yang masih mendefinisikan merek itu saat ini,” tulis Laura Lambert.

Coca-Cola kali pertama dijual di toko obat Jacob’s Pharmacy di Atlanta, pada 7 Mei 1886 –tanggal ini dijadikan hari jadi Coca-Cola. Penjualan tertingginya hanya 13 gelas per hari dengan harga lima sen per gelas. Padahal saat itu Atlanta sedang musim panas. Pada tahun pertamanya penjualan Coca-Cola tersendat. Belum juga merasakan kesuksesan, Pemberton sakit, bahkan sekarat, akibat kanker dan kecanduan morfin –yang dikenalnya ketika terluka dalam Perang Sipil. Saat itulah ahli farmasi Asa Griggs Candler membeli saham Coca-Cola pada awal 1888. Dua minggu setelah kematian Pemberton pada 16 Agustus 1888, Candler membeli sisa sahamnnya.

Pada 1892, Candler dan sebuah konsorsium membangun Coca-Cola Company. Setelah logo Coca-Cola didaftarkan pada 1893, Candler mulai menawarkan sampel dan mengembangkan serangkaian produk seperti jam, kalender, dan timbangan kimia yang memasang logo Coca-Cola. Dia juga gila-gilaan dalam beriklan; beberapa di antaranya dibintangi para penyanyi opera yang glamor. Strategi iklan “orang-orang keren” berlanjut sampai sekarang.

Menurut Laura Lambert, pada 1903, muncul skandal karena terdapat kokain dalam Coca-Cola, walau dalam jumlah kecil. Meski Candler mengubah resep untuk menghapus kokain dengan menambahkan asam sitrat, minuman ini terus memiliki reputasi negatif sehingga Biro Federal Kimia mengirim agennya ke Atlanta untuk menyelidiki pengaruh minuman Coca-Cola pada 1907. Laporannya menjelaskan “Coca-Cola iblis” berkeliaran di jalanan dan menyatakan keprihatinan yang mendalam karena anak-anak berumur empat tahun diizinkan mengkonsumsi minuman ini. “Delapan Coca-Cola mengandung cukup kafein untuk membunuh,” demikian berita utama media massa saat itu.

Dalam kondisi usaha goyah, Candler terpukul mengetahui istrinya menderita kanker payudara. Dia ditawari US$25 juta untuk menjual perusahaannya tapi dia menolak. Dia memutuskan mewariskan perusahaannya kepada anak-anaknya. Candler terpukul untuk kali kedua karena anak-anaknya menjual perusahaan itu pada 1919 seharga US$25 juta pada sebuah konsorsium yang dipimpin pebisnis Ernest Woodruff.

Empat tahun kemudian, Woodruff memasrahkan Coca-Cola kepada anaknya, Robert Winship Woodruff, yang memimpin Coca-Cola selama 31 tahun dan membawanya tersebar ke seluruh dunia.

Yang menarik adalah bagaimana Coca-Cola merambah Timur Tengah. Di kawasan ini, keberhasilan sebuah bisnis sering tergantung pada sentimen anti-Israel. Untuk menghindari boikot Liga Arab dan tetap bisa menjual ke pasar Arab yang besar, Coca-Cola menghentikan rencananya membangun pabrik di Israel pada 1949. Namun, pada 1961, seorang pegawai negeri di Mesir, Mohammad Abu Shadi, bilang menemukan Coca-Cola bertuliskan Amharic (bahasa Israel) yang diproduksi di Ethopia. Coca-Cola juga dituding melakukan bisnis dengan Israel. Manajer operasional Coca-Cola Mesir segera menepisnya bahwa Coca-Cola tak mungkin melakukan bisnis dengan Israel karena pasarnya terlalu kecil.

Pada 1 April 1966, Moshe Bronstein, seorang pengusaha Tel Aviv, menuduh Coca-Cola memboikot Israel karena tak mau berbisnis dengan Israel demi memenuhi tuntutan pasar Arab. Liga Anti-Fitnah –NGO anti-Semit yang berbasis di AS– mempertanyakan: jika Coca-Cola bisa beroperasi di Siprus, yang hanya sepersepuluh ukuran Israel, mengapa Israel terlalu kecil untuk operasi Coca-Cola?

Khawatir akan tekanan dari Yahudi AS, Coca-Cola pun berjanji membuka pabrik di Tel Aviv. Sebagai tanggapan, Liga Arab memboikot Coca-Cola pada Agustus 1968 (sampai Mei 1991), sebagai bagian dari boikot ekonomi Israel.

Pesaingnya, Pepsi, justru menikmati kesuksesan, bahkan monopoli. “Pepsi jauh lebih mapan di Timur Tengah daripada Coca-Cola, dan dalam hal respons tidak terlalu reaktif. Ini bukannya lebih bergantung pada kenyataan bahwa mereka telah ada 20 tahun lebih lama dari Coca-Cola,” tulis Sarah Diston, “Cola giants continue battle for Middle East market”, yang dimuat www.just-drinks.com, 6 April 2001.

Pada 1990-an sanksi akhirnya dicabut dan Coca-Cola diizinkan berdagang secara bebas di negara-negara Arab. Tapi ia masih menghadapi perjuangan berat dan, untuk sementara, penghinaan karena dijuluki konsumen Arab sebagai “Pepsi merah”. Upaya untuk menghancurkan Coca-Cola, melalui rumor maupun boikot, juga tak pernah surut.

Pesaing baru juga bermunculan. Iran mengawalinya dengan membuat Zam Zam Cola. Awalnya, ini adalah anak perusahaan Pepsi Iran pada 1954. Setelah revolusi Islam Iran 1979, Pepsi dinasionalisasi oleh pemerintah Iran dan mereknya diganti menjadi Zam Zam Cola sebagai bentuk perlawanan terhadap AS dan produk-produknya. Hingga saat ini, Zam Zam Cola menjadi minuman populer di Iran, Pakistan, dan negara-negara Arab lainnya. Ia juga dijual di sejumlah wilayah di Eropa yang memiliki pemeluk Muslim besar. Banyak konsumen memilihnya bukan karena rasanya tapi karena percaya bahwa Coca-Cola dan Pepsi dikendalikan oleh kepentingan Barat.

Dengan alasan serupa, belakangan muncul produk serupa seperti Mecca Cola di Prancis, Qibla Cola dan Evoca Cola di Inggris, atau Qolbu Cola yang dibikin Manajemen Qolbu milik Ustad Abdullah Gymnastiar di Indonesia. Uniknya Evoca Cola mengandung habbatussauda, obat manjur asli Arab.

Coca-Cola dan produk sejenisnya bukan lagi sekadar minuman menyegarkan. Seperti diharapkan Pemberton, mereka juga menjadi “obat penyejuk hati”.


Penulis: HENDRI F. ISNAENI

(Sumber: Majalah Historia)

Bom di Tengah Konferensi Asia-Afrika

Wednesday, April 27, 2011

 Ilustrasi: Majalah Historia

Sebuah pesawat meledak di kepulauan Natuna dan nyaris menggagalkan Konferensi Asia-Afrika di Bandung.

KASHMIR Princess, sebuah pesawat carteran milik Air India berjenis Lockheed L-7492A, lepas landas dari Bandara Kai Tak, Hong Kong, pada 11 April 1955. Sebelumnya, ia mengisi bahan bakar dan menjalani pemeriksaan rutin usai menempuh perjalanan dari Bombay, India. Pesawat membawa delegasi China, juga wartawan dari berbagai negara, yang akan menghadiri Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Rencananya, pesawat itu pula yang akan mengangkut Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri China Zhou Enlai.

Sekira lima jam perjalanan, pada jam tujuh malam, kru mendengar ledakan. Api berhembus ke arah lubang tangki bahan bakar nomor tiga. Dengan cepat pilot mematikan mesin nomor tiga, menyisakan tiga mesin yang menggerakkan pesawat. Dalam waktu sepuluh menit, situasi memburuk. Penumpang ngeri melihat api mulai melahap sayap pesawat dan membayangkan kematian di depan mata. Asap juga memasuki kabin dan kokpit. Kru sempat mengirimkan sinyal bahaya; memberi tahu posisi mereka di atas Kepulauan Natuna, sebelum radio terputus.

Tak ada pilihan bagi pilot kecuali mencoba mendaratkan pesawat di laut. Para kru mengeluarkan jaket pelampung dan membuka pintu darurat. Pesawat menghujam ke laut. Sayap kanan menghantam air terlebih dahulu, merobek pesawat menjadi tiga bagian. Enambelas orang tewas. Tiga orang selamat: Anant Shridhar Karnik, teknisi perawatan pesawar Air India International Cooperation; kapten perwira pertama Dixit; dan navigator penerbangan J.C. Pathak.

“Kami jatuh ke dalam air. Ketika saya menyembul ke permukaan, ada api besar di laut. Mr Dixit mengalami patah tulang di bagian leher sementara tangan saya patah. Arus sangat kuat. Kami, entah bagaimana, berenang selama sembilan jam di perairan gelap hingga akhirnya mencapai pantai... Kami akhirnya diselamatkan penduduk setempat, memakai kapal ke Singapura, kemudian dibawa ke Mumbai oleh kapal Angkatan Laut Inggris atas perintah Pandit Nehru,” kenang Karnik seperti dimuat Asian Age, 9 April 2005. Karnik menerbitkan buku tentang insiden ini berjudul Kashmir Princess.

Sehari setelah insiden itu, Kementerian Luar Negeri China mengeluarkan pernyataan yang menuding keterlibatan dinas rahasia Amerika Serikat (CIA) dan Ching Kai-shek. Mereka, sebagaimana dikutip dari Steve Tsang, The Cold War’s Odd Couple, “berencana menyabot pesawat carteran Air India, menjalankan rencana mereka untuk membunuh delegasi kami ke Konferensi Bandung yang dipimpin oleh Perdana Menteri Zhou Enlai, dan untuk menggagalkan Konferensi Bandung.”

Chiang Kai-shek adalah pemimpin Koumintang –juga dikenal dengan nama KMT atau Partai Nasionalis China– yang berhadapan dengan kubu komunis pimpinan Mao Zedong dalam perang saudara. Mao memenangi perang dan memproklamasikan Republik Rakyat China (RRC) pada 1949 sementara Chiang Kai-shek melarikan diri ke Pulau Formosa atau Taiwan.

Pemerintah Indonesia, juga peserta konferensi, terhenyak mendengar kabar kecelakaan itu. Mereka tak ingin konferensi terganggu karena sudah merancangnya jauh-jauh hari; dari usulan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pada 1953, Konferensi Kolombo di Sri Lanka pada April 1954, hingga pematangannya dalam Konferensi Bogor pada Desember 1954. Mereka akhirnya bisa bernafas lega ketika tahu Zhou Enlai tak berada dalam pesawat naas itu.

Untuk menyelidiki penyebab kecelakaan, pemerintah Indonesia membentuk komisi penyelidikan. Komisi mewawancarai sejumlah saksi mata, mengunjungi lokasi kejadian, melakukan pencarian fakta di Singapura, Jakarta hingga Hong Kong, serta menelisik reruntuhan pesawat.

Pada 26 Mei, setelah menyelamatkan hampir 90% reruntuhan pesawat di perairan dangkal Pulau Natuna di Laut Cina Selatan, komisi mengatakan bahwa mereka menemukan “bukti positif adanya sebuah ledakan di roda depan bagian kanan pesawat yang disebabkan bom waktu,” tulis majalah Time, 6 Juni 1955. Kesimpulannya: sabotase.

Bom berjenis detonator MK-7 buatan Amerika dan besar kemungkinan dipasang ketika pesawat berada di Hong Kong. Bom itu hanya bisa dipasang oleh seseorang dengan akses ke pesawat ketika berada di Bandara Kai Tak, di mana pemerintah RRC telah meminta pemerintah Hong Kong untuk melindunginya. Artinya, ini bukan kecelakaan biasa melainkan upaya pembunuhan dengan target Zhou Enlai. Tak jelas siapa yang menempatkan bom itu.

Pengumuman itu mengejutkan pemerintah Hong Kong. Mereka menawarkan HK $ 100.000 (hadiah tertinggi yang pernah ditawarkan di Hong Kong) atas informasi pelaku dan menginterogasi 71 orang yang berhubungan dengan perawatan pesawat.

Menariknya, Zhou Enlai bukan tak tahu upaya pembunuhan atas dirinya. “Bukti sekarang menunjukkan bahwa Zhou mengetahui rencana itu sebelumnya dan diam-diam mengubah rencana perjalanan, kendati dia tak menghentikan sebuah delegasi kader yang lebih rendah untuk mengambil tempatnya,” tulis Steve Tsang dari Universitas Oxford dalam “Target Zhoe Enlai”, yang dimuat China Quarterly edisi September 1994.

Mulanya, untuk membawa delegasi ke Konferensi Asia-Afrika, Peking menyewa Kashmir Princess yang berkapasitas lebih dari 100 penumpang. Para agen Taiwan tampaknya menduga bahwa pesawat itu akan membawa Zhou dan membuat rencana untuk meletakkan bom pada pesawat itu di bandara Hong Kong.

Peking maupun Zhou Enlai memiliki semua detail rencana itu. Tapi mereka membiarkan operasi itu berlanjut tanpa memberi tahu Air India, utusan Inggris di Peking, pemerintah Hong Kong, dan para penumpang pesawat. Mao menyuruh Zhou mengubah rute dan tak naik pesawat itu. Rencana perjalanan Zhou disimpan rapat-rapat. Penjelasan resmi atas perubahan itu: Zhou terkena radang usus buntu dan perlu operasi.

“Kerahasiaan perjalanan Zhou menyelamatkan jiwanya dan malapetaka bagi Kashmir Princess. Pesawat Air India itu pula yang dijadwalkan terbang ke Rangoon menjemput Zhou untuk perjalanan ke Indonesia,” tulis www.chinadaily.com, 21 Juli 2004.

Pada 7 April, Zhou bersama delegasi meninggalkan Beijing dan tiba di Kunming. Dia bermaksud menghabiskan beberapa hari di sana untuk mempersiapkan diri dalam Konferensi Asia-Afrika dan memulihkan diri pascaoperasi. Empat hari kemudian mereka mendengar berita ledakan pesawat Kashmir Princess. Mereka berdukacita dan memberikan penghormatan bagi para korban.

“Kami merasa persoalan menjamin keamanan Perdana Menteri Zhou sangat serius,” tulis Huang Hu, diplomat China yang loyal pada Zhou Enlai, dalam memoirnya, seperti dimuat www.globaltimes.cn. “Wakil Perdana Menteri Chen Yi mengatakan kepada semua komrad untuk memperhatikan keamanan Perdana Menteri Zhou. Dia mengatakan kita semua adalah pengawalnya. Dalam suratnya kepada istrinya, Deng Yingchao, Perdana Menteri Zhou kemudian mengatakan bahwa bahaya tak dapat dihindari dalam pertempuran militer dan juga perempuran sipil.”

Pada 14 April, Zhou terbang ke Rangoon, ibukota Burma untuk bertemu dengan Perdana Menteri U Nu, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, serta perdana menteri dari Mesir, Pakistan, Ceylon, dan Vietnam sebelum melanjutkan ke Bandung.

Mengapa Zhou tak bertindak untuk mencegah kecelakaan? Tujuannya: mendesak otoritas Hong Kong untuk menindak jaringan rahasia agen-agen Koumintang di Hong Kong.

“Segera setelah kecelakaan itu, Zhou mengatakan kepada pemerintah Inggris bahwa mereka bisa mengandalkan dukungannya dalam penyelidikan, jika mereka bersedia bekerjasama dalam menghancurkan jaringan spionase. Secara politik, ini akan meningkatkan hubungan antara Inggris Raya dan China, membangun kemajuan yang dicapai dalam (Konferensi) Jenewa,” tulis Barbara Barnouin dan Yu Changgen dalam Zhoe Enlai: A Political Life.

Menurut Jung Chang dalam Mao: Kisah-kisah yang Tak Diketahui, Peking segera menyatakan bahwa agen-agen Taiwan memasang bom di pesawat itu. Zhou Enlai lalu memberi Inggris nama-nama yang menurut Peking harus diusir dari Hong Kong. Inggris menyetujui dan sepanjang tahun berikutnya mendeportasi lebih dari 40 agen Nasionalis penting yang tercantum dalam daftar Zhou, meski di pengadilan tak ada cukup bukti untuk menuntut mereka dengan tuduhan tindak kejahatan. Ini membuat sebagian besar jaringan Chiang Kai-sek di Hong Kong lumpuh.

Lantas, siapa pemasang bom itu? Menurut Steve Tsang, yang menelusuri arsip-arsip Inggris, Taiwan, Amerika, dan Hong Kong, agen-agen Kuomintang yang beroperasi di Hong Kong sebagai pelaku pemboman –dokumen China yang sudah dibuka untuk publik pada 2005 juga menunjukkan dinas rahasia Koumintang bertanggung jawab atas pengeboman. Pada Maret 1955, mereka merekrut Chow Tse-ming alias Chou Chu, yang menjadi tukang bersih Hong Kong Aircraft Engineering Co sejak 1950. Nasionalis menawarkan uang dalam jumlah fantastis untuk ukuran saat itu sebesar HK$ 600.000 (saat ini sekira Rp 700 juta) dan tempat perlindungan di Taiwan, jika perlu.

Sialnya, Chow bukanlah orang yang cerdik. Dia membual kepada temannya tentang apa yang dia lakukan. Dia juga menghabiskan uang dalam jumlah besar. Setelah empat bulan mencari jejak, polisi Hong Kong mengeluarkan surat perintah untuk menangkap Chow. Tapi ketika polisi hendak menangkapnya, Chow melarikan diri naik pesawat Civil Air Transport milik CIA dalam penerbangan ke Taiwan. Konsul Inggris di Taiwan menuntut Chow dikembalikan ke Hong Kong untuk diadili, tapi Nasionalis menolak.

Bagaimana dengan keterlibatan CIA? Seperti halnya Chiang Kai-shek, “Amerika takut konferensi akan sukses dan menjadi pemersatu dan oposisi bagi imperialisme and kolonialisme. Pemerintah Amerika meminta para kepala misi diplomatik di seberang lautan untuk merencanakan sebuah konspirasi, dan membuat sebuah rencana untuk menyabotase konferensi itu. Mereka berupaya agar konferensi hanya membicarakan masalah budaya dan ekonomi dengan mengesampingkan masalah politik dan pelucutan senjata, dan menjadikannya pembicaraan minum teh di sore hari. Mereka mengirim sekira 70 koresponden untuk menyebarkan rumor dan distorsi demi menyabotase konferensi,” tulis Huang Hua.

Menurut Steve Tsang, CIA tak terlibat, meski awalnya juga punya rencana untuk menghabisi Zhou Enlai. Ketika diangkat menjadi wakil direktur CIA pada 1954, Jenderal Lucian Truscott menemukan bahwa CIA berencana membunuh Zhou Enlai. Selama perjamuan akhir di Bandung, seorang agen CIA akan membubuhkan racun ke mangkuk nasi Zhou yang tak akan bereaksi selama 48 jam hingga Zhou kembali ke China. Truscott menghadap Direktur CIA Allen Dulles dan memaksanya menghentikan operasi itu.

Dalam Konferensi Asia-Afrika, Zhou Enlai menjadi bintang. Dengan tenang dia menangkis pidato delegasi negara lain yang menyerang China dan komunisme. Zhou juga menjadi pendamai ketika terjadi kebuntuan antara negara-negara yang berpihak dan negara-negara bebas-aktif. Zhou pula yang mengusulkan suatu Deklarasi Perdamaian. Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung 18-24 April di Gedung Merdeka, Bandung, berjalan lancar dan menghasilkan dokumen penting yang disebut Dasasila Bandung.

Ledakan pesawat Kashmir Princess, yang merupakan upaya pembunuhan atas Zhou Enlai, menjadi warna pedih dalam upaya perdamaian dunia yang diusung Konferensi Asia-Afrika.

__________
Oleh: BUDI SETIYONO

(Sumber: Majalah Historia)

Mengenang Anak Demang (Mengenang Rosihan Anwar (Bagian III)

Friday, April 15, 2011

 Fhoto: Majalah Historia

Jumat. 15 April 2011

Mengenang Rosihan Anwar (Bagian III)
Mengenang Anak Demang


Dia melintasi zaman demi zaman. Mencatat dan mengenang. Dan kini dia dikenang.


PADA 1992, Rosihan Anwar beserta keluarga mudik ke Sumatera Barat. Anak-anak dan cucunya dibesarkan di Jakarta. Mereka asing terhadap keadaan dan budaya Ranah Minang. “Karena itu, saya bawa keluarga meninjau Sumatera Barat,” kata Rosihan dalam Petite Histoire IV.


Di simpang tiga dekat pasar mobil, di Dangung-dangung tak jauh dari Payakumbuh, Rosihan menyambangi sebuah rumah batu bercat putih. Rumah itu bagaikan tak berpenghuni lagi kumuh. Rosihan mengetok pintu berkali-kali tapi tiada yang menyahut. 


Anak dan cucu-cucunya bertanya, kenapa Rosihan ke rumah kumuh itu? Rumah itu punya siapa? “Opa cari apa di sana?” Tanya seorang cucunya.


Pada 1927, Rosihan tinggal di rumah itu, yang di zaman Hindia Belanda menjadi rumah jabatan asisten demang. “Saya ingat sebuah foto rumah itu,” katanya. Di depan pintu, Rosihan berdiri pakai baju dan celana pendek di dekat ibunya, Siti Safiah, yang menggendong adiknya, Rohana, berusia satu tahun. Ayahnya, Anwar gelar Maharadja Soetan, Asisten Demang Dangung-dangung, yang memakai pakaian formal ambtenaar Binnenlands Bestuur jas tutup, dengan kancing besar bertuliskan W (inisial Ratu Belanda, Wilhelmina), di kepalanya topi pet warna putih; berdiri disamping ibunya.


“Bila dilihat wajah saya di  foto berwarna sepia, tampak dari lubang kiri hidung keluar ingus yang dibiarkan saja tanpa menyekanya dengan sapu tangan,” kenang Rosihan.


Pada 1928, ayahnya pindah ke Pauh Sembilan, tak jauh dari Kota Padang. Di sana, jabatannya masih asisten demang. Dua tahun kemudian, naik pangkat menjadi demang dan ditempatkan di Talu Pasaman, berbatasan dengan Mandailing, Tapanuli Selatan. Ketika Rosihan sekolah Meer Uitgebreid Lager Ondrewijs (MULO) pada 1939, ayahnya menjabat Demang Maninjau. Kemudian dipindahkan lagi ke Sungai Penuh, Kerinci, yang dulu bagian Sumatera Barat (kini wilayah Provinsi Jambi), pos terakhir ayahnya.


Rosihan Anwar lahir di Kubang Nan Dua, Sirukam, Solok, Sumatera Barat, pada 10 Mei 1922. Di masa itu ayahnya telah membaca dan kagum pada perjuangan Kemal Mustafa Pasha, yang kemudian terkenal sebagai Kemal Ataturk atau Kemal “Bapak Turki”, yang melancarkan serangan terhadap tentara Yunani di Smyrna. Salah seorang jenderal yang berada di bawah komando Kemal Pasha ialah Rozehan Pasha. Maka dia pun menamai anaknya Rozehan Anwar.


Ketika mulai masuk sekolah dasar yaitu Hollands Indische School (HIS) di Padang, nama Rozehan Anwar dieja menjadi Rosehan Anwar, dan bertahun-tahun kemudian berubah lagi menjadi Rosihan Anwar.


Di zaman kolonial, terdapat sekolah untuk menjadi pegawai pamongpraja, yakni Middlebare Opleiding School Voor Inlandsche Bestuur Ambtenare (MOSVIA) di Bandung. Meski tak pernah mengutarakannya, ayahnya ingin Rosihan masuk MOSVIA setamat MULO. Tapi Rosihan lebih memilih masuk Algemene Middelbare School Westers Klassieke Afdeling (AMS-A) di Yogyakarta pada 1942. “Tidak ada suratan di tangan saya bahwa saya akan mengikuti jejak ayah dan menjadi pegawai pamong praja,” katanya.


Pada zaman kolonial, jumlah sekolah menengah atas hanya delapan buah. Tak gampang masuk AMS karena biayanya mahal, 14,5 gulden per bulan atau lebih besar daripada gaji juru tulis yang hanya 10 gulden. Kalau ayahnya bukan demang, mana bisa Rosihan sekolah di sana. Selain itu, otak mesti sedikit cerdas. Jika tidak, mana bisa lulus ujian masuk.


Rosihan bercita-cita meneruskan belajar ke Universitas Leiden, Belanda. Karenanya dia memilih jurusan Sastra Klasik Barat. Dia belajar bahasa Latin dan budaya Yunani. Cita-cita ini tak pernah kesampaian karena perang antara Belanda dan Jepang pecah pada akhir 1941.


Rosihan lalu pindah ke Jakarta. Dia mesti bekerja karena kiriman wesel dari ayahnya berhenti. Di suratkabar, ada pengumuman mencari pemuda-pemuda tamatan sekolah menengah atas untuk mengikuti kursus kilat menjadi jaksa yang dilakukan pemerintah Jepang. Lama latihan enam bulan. Selama belajar mendapat tunjangan Rp50. Dia lulus ujian dan siap masuk asrama.


Pertemuannya dengan dr Abu Hanifah, yang bekerja di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ) atau sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengubah segalanya. Abu Hanifah memberikannya pendidikan politik. Dia pula yang, setelah bicara dengan Sukardjo Wirjopranoto, tokoh Parindra dan anggota Volksraad di zaman Belanda yang jadi pemimpin umum suratkabar Asia Raya, menawari Rosihan jadi wartawan. Rosihan tak pernah bercita-cita jadi wartawan. Namun dia terima saran Abu Hanifah dan sejak Maret 1943 mulai bekerja sebagai wartawan.


Rosihan bekerja di Asia Raya dengan tugas ganda. Sebagai asisten Yoshio Nakatani, dia bertugas mengoreksi terjemahannya ke bahasa Indonesia. Lalu menjadi deskman berita luar negeri yang redakturnya B.M. Diah.


Di Asia Raya Rosihan bertemu seorang gadis Betawi yang cantik, Siti Zuraida Sanawi, atau bisa dipanggil Ida Sanawi. Ida adalah sekretaris redaksi sekaligus sekretaris pemimpin umum Asia Raya. Cinta bersemi hingga ke pelaminan pada 25 April 1947 (Ida berpulang pada 5 September 2010).


Di masa ini, bersama Usmar Ismail, dan atas dorongan dr Abu Hanifah, dia mendirikan perkumpulan sandiwara penggemar atau amatir bernama Maya pada Juli 1944. Rosihan jadi ketua perkumpulan. Maya berbeda dari rombongan sandiwara lainnya. Ia berani merintis cara-cara baru dalam permainan pelaku, pengaturan lampu, hingga pembuatan dekor. Dengan teratur, dua bulan sekali Maya mengadakan pertunjukan. Gedung Kesenian Pasar Baru selalu ramai. Karcis selalu habis. Perkumpulan ini mementaskan lakon Taufan di Atas Asia, Liburan Seniman, Mutiara dari Nusalaut, serta sejumlah gubahan Kleine Eyolt, Intelek Istimewa, dan Dewi Reni. Perkumpulan ini juga mempertunjukkan Konser Indonesia yang dipimpin Kusbini dan Opera Madah Kelana oleh Cornel Simandjuntak.


Tapi waktunya kemudian dihabiskan di dunia kewartawanan, dan membunuh kemungkinannya menjadi novelis dan penyair serta aktor, meski kemampuan itu tidak dia tinggalkan sepenuhnya.


Pada akhir zaman Jepang, posisi Rosihan di Asia Raya adalah reporter politik. Setelah proklamasi, Asia Raya terbit sebentar sampai sekira awal September 1945. Kemudian orang-orang yang bekerja di Asia RayaDe Unie di Yamato Bashi Kita Doori 8 –kelak bernama Jalan Hayam Wuruk. Ini percetakan milik pengusaha Metzelaar dan suratkabar Belanda Java Bode yang selama pendudukan Jepang digunakan untuk mencetak Asia Raya. Kemudian mereka menerbitkan suratkabar Merdeka pada 1 Oktober 1945. Pemimpin umum serta pemimpin redaksinya B.M. Diah. Rosihan menjadi redaktur pertama. Namun, karena tak seide dengan B.M. Diah, Rosihan keluar dari Merdeka pada 1946. mengambil-alih Percetakan


Pada 4 Januari 1947, bersama Soedjatmoko, Rosihan mendirikan majalah politik, Siasat. Penerbitannya disokong oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir, berupa bantuan modal dan kertas cetak yang jumlahnya tidak banyak. Selebihnya mandiri. Selagi Rosihan memimpin Siasat, pemilik suratkabar Pemandangan, Haji Djunaidi menawarinya membuat sebuah koran. Terbitlah Pedoman. Baru dua bulan terbit, koran ini dibredel Belanda karena membela Republik. Setelah perjanjian Roem-Royen pada Juli 1949, Pedoman terbit kembali.


Setelah Pedoman dibredel pada 7 Januari 1961, Rosihan menjadi koresponden beberapa suratkabar asing seperti The Age (Melbourne, Australia), Hindustan Times (New Delhi, India), kantor berita World Forum Features (London, Inggris), dan Asiaweek (Hong Kong); hingga Pedoman kembali dihidupkan pada 1968.


Dalam Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Palembang pada 1970, Rosihan terpilih menjadi ketua umum dan Jakob Oetama sebagai sekretaris jenderal. Dia mengalahkan B.M. Diah dan Manai Sophiaan. Tapi pemerintah tak merestui. Menteri Penerangan Boedihardjo lebih mengakui Diah dan Manai. PWI pun terbelah.


Rosihan melihat keterlibatan Operasi Khusus Intel yang dipimpin Ali Moertopo di belakang pencalonan Diah. Opsus selalu mencampuri urusan intern organisasi politik dan organisasi masyarakat dengan tujuan memasukkan orang-orang yang diandalkan pemerintah. Sekiranya sejak semula tahu Rosihan mengaku akan menolak pencalonan dirinya.


Perpecahan PWI ini berimbas juga ke cabang-cabang. Polemik hebat juga terjadi di kalangan media cetak nasional. Media massa yang dikontrol pemerintah di Jakarta tidak menyiarkan semua berita mengenai pengurus Rosihan Anwar. Tapi, suara yang mendukung Rosihan ternyata tetap mayoritas, seperti halnya dalam kongres di Palembang.


Melalui perundingan yang melibatkan mantan wartawan seperti Menteri Luar Negeri Adam Malik dan Soemanang tercapai kesepakatan untuk menggabungkan dua kepengurusan itu pada 6 Maret 1971. Bagi Rosihan, Kongres di Palembang ini merupakan perlawanan terakhir para wartawan terhadap intervensi pemerintah. Setelah itu terbuka jalan bagi penjinakkan PWI. Ini terbukti dalam Kongres PWI di Tretes pada 1973 yang menaikkan Harmoko sebagai ketua PWI Pusat.


Sementara itu Rosihan masih mengurus Pedoman, yang terbit lagi tak lama setelah Sukarno jatuh. Setelah peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974), Pedoman kena bredel untuk kali terakhir pada 15 April 1974. Setelah itu Rosihan kembali lagi jadi penulis lepas untuk The Straits Times, New Straits Time, Asiaweek, dan Hindustan Times. Dia juga menulis opini dan menjadi kolomnis di berbagai koran, tabloid, dan majalah.


Rosihan menulis lebih dari 30 buku mengenai berbagai topik, seperti jurnalistik, agama, politik, dan sejarah. Ketika menulis tentang ayahnya di Petite Histoire IV, Rosihan mengutip judul buku Marthias Dusky Pandu: Anan Takan, artinya apa yang terkenang. Di akhir hayatnya, dia mencoba menulis buku tentang istrinya.

(*)Oleh: Hendri F. Isnaeni
Sumber: Majalah Historia 


Artikel Terkiait:

 

Jatuh-Bangun Koran Kiblik (Mengenang Rosihan Anwar II)

 Fhoto: Majalah Historia


Jumat. 15 April 2011

Mengenang Rosihan Anwar (Bagian II)
Jatuh-Bangun Koran Kiblik

Rosihan berhasil menjadikan Pedoman sebagai koran yang disegani dan beroplah terbesar di masanya. Tapi Sukarno membunuhnya dan Soeharto membunuhnya sekali lagi.


SEBUAH kabar menyenangkan datang dari Soemanang Soerjowinoto, pemimpin redaksi harian Pemandangan, pada 1948. Soemanang memberitahukan Rosihan Anwar bahwa R.H.O. Djuanedi, penerbit Pemandangan, memiliki dana dan ingin menerbitkan koran yang membawa suara kaum kiblik.


Sebelum Perang Dunia II, Djunaedi sudah menerbitkan harian Pemandangan dengan Soemanang sebagai pemimpin redaksinya. Djunaedi ingin memanfaatkan percetakan Pemandangan di Senen Raya 107 untuk menerbitkan sebuah koran lagi. Syaratnya sederhana. Nama depan koran harus dengan huruf “P”, sama dengan nama depan Pemandangan.


Rosihan Anwar bukanlah orang baru di dunia jurnalistik. Dia pernah bekerja jadi wartawan Asia Raya dan Merdeka, sebelum kemudian menerbitkan Siasat. Tapi dia tak begitu puas dengan Siasat yang lebih menonjolkan sisi idealisme. Dia butuh perahu lain yang bisa dia nahkodai secara lebih bebas dan menguntungkan secara bisnis.


Rosihan menyambar kesempatan itu. Dia mengusulkan nama Pedoman. Djunaedi tak berkeberatan. Begitu juga ketika Rosihan hendak memakai orang-orang Siasat –berhenti terbit pada 1957. Nomor perdana Pedoman terbit pada 29 November 1948.


Sebagai koran kiblik, Pedoman kerap memberitakan perlawanan tentara Indonesia. Pedoman pun merasakan pembredelan kali pertama pada 31 Januari 1949 karena memuat pidato radio Menteri Luar Negeri (darurat) Indonesia Mr Maramis dari New Delhi, India, yang mengajurkan kaum republiken meneruskan perjuangan kemerdekaan. Enam bulan Pedoman lumpuh. Ketika hendak terbit lagi, Djunaedi tak lagi antusias jadi penerbit. Tapi Rosihan jalan terus, meski dengan dana terbatas. Kesulitan modal akhirnya teratasi setelah Lim Tok Ie, tetangga sekaligus teman Rosihan di Pegangsaan Barat, menawarkan pinjaman. Perlahan Pedoman menjadi bacaan golongan menengah, kaum elite dan intelektual.


Sosialisme dan kedekatannya dengan kelompok Sjahrir memengaruhi sikap dan cara Rosihan mengambil kebijakan dalam mengelola Pedoman. Beberapa kalangan pun beranggapan Pedoman adalah suratkabar PSI. Menurut Rosihan Anwar, hubungan Pedoman dengan PSI harus dilihat dalam konteks saat itu. Hampir semua partai politik mempunyai organ pers, kecuali PSI yang tak punya modal. Secara sukarela Rosihan menjadikan Pedoman sebagai pendukung sosialis.


“PSI harus berterima kasih kepada saya karena saya bersedia dan secara sukarela menyokong perjuangan PSI. Tanpa mengeluarkan biaya, PSI mendapatkan koran pendukungnya, suatu koran yang besar tirasnya zaman itu,” ujar Rosihan, bercanda.


Sikap itu terlihat jelas pada pemilihan umum tahun 1955. Rosihan masuk PSI untuk memenuhi syarat pencalonannya sebagai anggota Konstituante. Lalu dia menjadikan korannya untuk kepentingan kampanye PSI lewat tajuk rencana “Pilihan Kita: PSI”.


Pilihan sikap itu menjadi bahan ejekan koran lain, suatu hal yang biasa di zaman pers partisan. Koran Partai Nasional Indonesia Suluh Indonesia menganggap Pedoman “wis entek entute”. Alasannya Pedoman adalah bulat-bulat koran PSI. Karena PSI gagal besar dalam pemilihan Parlemen, begitu juga Pedoman. Tajuk rencana Pedoman, 14 Desember, menjawabnya dengan tulisan, “Menghadapi pemilihan Konstituante, kami tegaskan Pedoman durung entek entute dan begitu pula halnya PSI. (Yakin)”.


Keyakinan yang tak berbuah. Sama seperti hasil pemilihan umum Parlemen, dalam pemilihan Konstituante PSI hanya berhasil menempatkan 10 wakil di Konstituante. Rosihan sendiri gagal menjadi anggota Konstituante. Rosihan pun gagal jadi politisi.


Sudah takdir Rosihan, yang biasa dipanggil Bung Cian dan terkadang pula Haji Waang –nama tokoh lugu dan polos dalam tajuk rencana Pedoman tiap Jumat yang ditulisnya– untuk tetap jadi wartawan. Dengan pengetahuan yang kurang memadai, kecuali tahu sedikit-sedikit dari bacaan, Rosihan menerapkan gaya kepemimpinan yang dia sebut personal management dan membesarkan Pedoman. Tirasnya terus meningkat. Bahkan pada 1961, memiliki tiras 53.000 eksemplar dan menjadikannya koran beroplah terbesar. Pemasukan iklan bertambah.


Rosihan tak menganggap Pedoman miliknya. Dalam tajuk untuk memperingati ulang tahun Pedoman, 28 November 1953, Rosihan menegaskan bahwa sejarah pertumbuhan Pedoman tak pernah terikat kepada sejarah satu orang tapi senantiasa kepada sejarah suatu kumpulan orang. Sikap ini dia tunjukkan ketika membentuk PT Badan Penerbit Pedoman. Dia mengusulkan agar hak milik atas suratkabar itu dibagi sama rata. Wartawan dan karyawan mendapat jumlah saham yang sama.


“Sentimen sosialis dan idealis di masa muda telah menggerakkan saya supaya membuat suratkabar suatu usaha dan milik bersama,” ujarnya. Rosihan juga tak mau mengulang pengalaman buruk harian Merdeka, yang membuatnya berselisih dengan BM Diah dan membuatnya terdepak.


PT Badan Penerbit Pedoman kemudian menerbitkan lampiran-lampiran yang dijual secara terpisah: Pedoman Minggu, Pedoman Wanita, Pedoman Sport, dan Pedoman Anak. Tiras mereka terbilang lumayan; masing-masing 42.000, 15.000, 40.000, dan 45.000 eksemplar pada 1961.


Untuk menjadi koran mainstream, jalan Pedoman tidaklah mulus. Beberapa kali Pedoman tak bisa terbit karena aksi boikot (dilakukan Sarikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia pada September 1950) maupun bredel penguasa militer. Situasi paling kritis terjadi pada 1957 ketika terjadi sejumlah pergolakan di daerah. Pedoman berkali-kali kena bredel. Bahkan Rosihan sempat duduk di kursi pesakitan tapi dibebaskan.


Pada November 1960, Pedoman merayakan ulangtahun ke-13. Tak seperti biasanya, kali ini tak ada acara meriah. Yang ada perenungan. Sudah 13 tahun usia koran ini, dengan begitu banyak tekanan menghadang tapi selalu lolos. Tapi sampai kapan? Dalam tajuk rencana “Pedoman berultah ke-13”, 29 November 1960, Rosihan Anwar menyiratkan kesadaran bahwa hidup suratkabarnya tak akan lama.


“Dalam pada itu, sebagaimana lazimnya dalam kehidupan manusia ini, tentulah kita ketahui pula bahwa tiada yang bersifat kekal adanya, termasuk suratkabar,” tulisnya.


Intuisinya benar. Mula-mula pemerintah mengeluarkan program manipolisasi pers dalam bentuk izin terbit. Berdasarkan Peraturan Peperti  No 10/1960, para peminta izin terbit harus menyetujui dan menandatangani pernyataan 19 pasal mendukung Manipol-USDEK. Yang tak mau, tutup. Rosihan Anwar bersedia menandatanganinya, sebuah pilihan yang mempertaruhkan citranya. Sikap itu juga menyulutkan polemik dengan Mochtar Lubis.


“Kalau mau begitu permainannya, playing the game, kita ikuti. Kalau saya tanda tangani, itu taktik; mau menyelamatkan Pedoman. Itu saja. Kita punya kewajiban untuk memberi pendidikan politik kepada masyarakat. Untuk mencapai itu, startegi itu, ditempuh macam-macam taktik. Bisa zig-zag, begini-begitu, plin-plan atau apalah boleh saja. … Kalau nggak ada koran, apa yang mesti dididikkan, apa yang hendak kita sampaikan?” ujar Rosihan.


Toh itu tak bisa menyelamatkan korannya. Pada 7 Januari 1961, penguasa militer membredel Pedoman karena dianggap "sering memuat tulisan-tulisan yang nadanya bertentangan dengan atau melemahkan kepercayaan rakyat kepada landasan, tujuan, dan program kepemimpinan revolusi Indonesia". Pedoman Minggu, Pedoman Wanita, Pedoman Anak, dan Pedoman Sport juga kena bredel. Pembredelan itu terkait usaha pemerintah menghentikan koran-koran pendukung Partai Sosialis Indonesia dan Masyumi yang dilarang dan dibubarkan bulan Agustus 1960.


Bagi Rosihan, pembredelan itu memaksanya berhenti jadi editor. Di sinilah dia mulai berpikir tentang apa yang pernah dia lakukan. “Betapa pada tahun-tahun ketika jadi pemimpin redaksi Pedoman sebelum dibredel pada awal tahun 1961, saya menulis dengan tajam dan mengkritik orang dengan keras. Saya bikin banyak musuh karena itu, bukan saja musuh politik, melainkan juga musuh pribadi. Saya berpendapat seorang wartawan yang baik tidak mencari popularitas, supaya disenangi oleh semua pihak dan golongan,” tulis Rosihan dalam otobiografinya, Menulis Dalam Air.


Pada 29 November 1968, tak lama setelah kekuasaan Sukarno runtuh, Rosihan menerbitkan kembali Pedoman tapi hanya bertahan sekitar lima tahun. Pada 24 Januari 1974, pemerintah membredel Pedoman setelah terjadi demonstrasi mahasiswa di Jakarta yang menentang kunjungan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka dan mengkritik politik pemerintah, dalam apa yang disebut Peristiwa Malapetaka Limabelas Januari (Malari). Padahal saat itu tiras koran sudah mencapai 60.000 eksemplar.


Pembredelan Pedoman, bagi Rosihan, merupakan tragedi yang akan senantiasa terasa getir. Pedoman sudah menjadi bagian dalam sejarah hidupnya, dan tak akan ada lagi. Makanya, Rosihan tak meluluskan keinginan banyak orang untuk menerbitkan kembali Pedoman ketika kran kebebasan pers dibuka di awal reformasi.

(*)Oleh: Budi Setiyono
Sumber: Majalah Historia


Artikel Terkiait:

 

Salah Jalan Berujung Kekal (Mengenang Rosihan Anwar I)

 Fhoto: Majalah Historia


Jumat. 15 April 2011

Mengenang Rosihan Anwar (Bagian I)
Salah Jalan Berujung Kekal

Jadi wartawan bukan pilihannya. Nasib membawanya menekuni profesi itu sampai akhir hayat.


“TIDAK ada niat atau cita-cita sebelumnya menjadi wartawan. Pekerjaan wartawan tidak ada daya tarik bagi saya,” kata Rosihan Anwar dalam tulisannya “Kenang-kenangan Tentang Kehidupan Pers Indonesia di Masa Revolusi 1945–1949” di buku Denyut Nadi Revolusi Indonesia.


Profesi wartawan pada masa kolonial dipandang oleh Rosihan tak menjanjikan masa depan yang baik. Gajinya rendah takkan bisa bikin orang jadi kaya. Rosihan bercerita bahwa pada zaman kolonial, pemimpin redaksi Het Nieuws van den Dag ven Nederlandsch Mr W.K.S. van Haasters mengatakan pada pemimpinnya bahwa de Inlandsche Pers (Pers Pribumi) punya dua ciri utama yaitu bodoh dan kurang ajar (dom en onbeschaafd).


Menurut Rosihan rendahnya pendidikan wartawan menjadi faktor penyebab rendahnya pula upah yang mereka terima. Pekerjaan wartawan membutuhkan keterampilan dan intelektualitas yang memadai. Tak banyak wartawan pribumi yang bisa memenuhi itu. Rosihan mengambil contoh Parada Harahap, pemimpin redaksi Tjahaya Timoer, yang hanya punya pendidikan formal sekolah dasar dan selebihnya otodidak. “Umumnya wartawan Indonesia zaman Belanda hanya sekolah setalenan, berpendidikan HIS (Hollands Inlandse School),” kata dia.


Gaji wartawan Indonesia pada zaman kolonial pun sangat memprihatinkan. Rosihan mengisahkan kalau gaji sekelas pemimpin redaksi hanya 150 gulden sebulan, pemimpin redaksi bukan sarjana 75 gulden dan reporter mendapat gaji antara 15 sampai 50 gulden per bulan. Itu pun dibayar secara mencicil. Bahkan WR Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya yang sehari-harinya bekerja di koran Sin Po tak sanggup membeli satu stel pentalon dan jas seharga 6 gulden.


Pendapatan iklan yang diterima oleh koran Belanda dengan koran pribumi pun bagaikan langin dan bumi jaraknya. Suratkabar seperti De Java Bode dan Het Nieuws van Dag di Batavia, Preanger Bode di Bandung, dan Locomotief  di Semarang mendapat antara 14 ribu gulden sampai 60 ribu gulden setiap bulan sementara penghasilan iklan koran pribumi tak lebih dari 1.500 gulden per bulan. Tiras suratkabar pribumi paling banter 5.000 eksemplar per bulan.


Itulah sebab kenapa profesi wartawan tak pernah menarik minat Rosihan muda. Pada zaman Jepang dia hampir menjadi jaksa dan bersiap mengikuti pendidikan kilat jaksa selama enam bulan yang diselenggarakan oleh pemerintah balatentara Jepang. Pada saat-saat terakhir sebelum masuk kursus, Rosihan bertemu dr Abu Hanifah yang mengabarkan kepadanya kalau koran Asia Raya membuka lowongan wartawan. “Waarom niet? (mengapa tidak?) dan ibarat “kun fayakun” jadilah saya wartawan,” kata dia mengenang.


Seperti suratan takdir, profesi itu kemudian ditekuni Rosihan sampai akhir hayatnya. Sepanjang karier kewartawanannya, dia pernah mendirikan beberapa suratkabar. Pada zaman revolusi, bersama BM Diah, Rosihan turut mendirikan suratkabar Merdeka yang terbit 1 Oktober 1945. Koran itu didirikan setelah para wartawan dan karyawan koran Asia Raya mengambil alih percetakan Belanda De Unie dan menempelkan selembar kertas bertulisan “Milik Repoeblik Indonesia”. Rosihan kala itu baru berusia 23 tahun dibenum jadi eerste redacteur (redaktur pertama atau redaktur pelaksana) sementara BM Diah yang berumur 28 tahun jadi pemimpin redaksinya.


Rosihan hanya setahun kerja di Merdeka. Pada 8 Oktober 1946 dia keluar dari sana karena berselisih paham dengan BM Diah soal kepemilikan saham. BM Diah, menurut Rosihan, ingin memiliki mayoritas sahamnya. Bagi Rosihan, saham Merdeka tak sepenuhnya milik Diah. “Saya berpendapat harian itu milik bersama semua wartawan dan buruh yang bekerja di sana,” ujar dia.


Selama menganggur Rosihan jadi ajudan Lord Killearn, utusan Inggris yang bertugas memediasi perundingan Indonesia dengan Belanda di perjanjian Linggarjati pengujung 1946. Lantas pada awal Januari 1947, bersama Soedjatmoko, Rosihan mendirikan Siasat, majalah politik dan budaya. Dalam waktu yang tak lama, oplah Siasat melesat ke angka 12 ribu. Majalah yang menampung banyak tulisan intelektual dan seniman Indonesia di masa revolusi itu sempat berhenti terbit karena aksi militer Belanda pertama Juli 1947 namun kemudian terbit lagi sampai awal tahun 1960.


Pada 29 November 1948 Rosihan mendirikan koran Pedoman. Haluan koran itu mendukung politk perjuangan kaum republik sehingga korannya, sebagaimana koran yang berhaluan sama, dijuluki koran kiblik. Pedoman bertahan sampai dibreidel oleh pemerintah Sukarno pada 1961. Pedoman sempat hidup lagi ketika Soeharto jadi berkuasa tapi lagi-lagi harus menelan pil pahit pembreidelan pascaperistiwa Malari 1974. Rosihan memang memertahankan sikap kritisnya. Dia hantam kiri-kanan tapi konsekuensinya harus kehilangan koran kebanggaannya.


Rosihan selalu menempatkan dirinya berseberangan dengan penguasa. Kepada Sukarno dia tak pernah menunjukkan kesesuaiannya. Apalagi sebagai Sjahririest (pengikut Sjahrir) yang disisihkan oleh Sukarno, Rosihan selalu memandang minor gaya Sukarno memerintah. Bahkan sejak zaman revolusi dia selalu melancarkan kritik kepada Sukarno. Tak jarang dalam beberapa tulisannya dia menyebut Sukarno sebagai orator yang membosankan karena “yang dibicarakan itu-itu saja”.


Ketika Soeharto berkuasa, melalui Pedoman, dia kritik Soeharto habis-habisan. Peristiwa Malari 1974 adalah titik didih hubungan Pedoman dengan pemerintah. Menurut Rosihan sebelum korannya ditutup, Mashuri SH, menteri penerangan saat itu, melapor kepada Soeharto tentang langkah apa yang harus diambil menyoal Pedoman. “Pateni wae,” begitu kata Soeharto seperti dikutip dari Rosihan. Tanpa babibu lagi Pedoman langsung mampus. Semenjak itu praktis Rosihan tak lagi jadi wartawan kantoran. Dia menulis untuk berbagai media di Jakarta, mulai Kompas sampai Sinar Harapan dan hanya mengandalkan hidup dari tulisannya.


Rosihan pencatat yang baik. Dia seorang juruwarta yang terlatih dan memiliki intuisi yang tajam. Ketika masih mengelola majalah Siasat, dia pernah melakukan perjalanan berkeliling ke beberapa daerah di Indonesia. Dia melaporkan secara detail apa yang dilihatnya dan bagaimana kodisi sosial dan politik di daerah yang disambanginya. Rosihan, yang semula tak melirik profesi wartawan, justru bisa menggeluti dunia kepenulisan itu sepenuh hatinya. Dia memang bukan tipe wartawan yang gemar bergenit-genit dengan gaya penulisan yang mendayu-dayu. Dia lugas dan selalu tepat sasaran. Apa saja yang dilihatnya selalu ditulisnya, terkadang terkesan tanpa saringan karena dia wartawan yang bebas.


Dengan semua sifat itu, plus sebagai wartawan pengikut Sjahrir yang dikenang mengagungkan demokrasi dan kemanusiaan, sikap diam Rosihan saat ratusan ribu manusia yang dituduh komunis dibantai pada kurun tahun 1965-1969 menyisakan tanda tanya besar. Apakah antipatinya terhadap komunis membuatnya abai terhadap rasa kemanusiaan yang selalu diagung-agungkan oleh Sjahrir, patron politiknya itu. Ataukah dia memahami tragedi itu sebagai konsekuensi logis dari sebuah pertarungan politik: selalu ada yang menang dan (di)kalah(kan).


Tapi Rosihan tetap manusia. Ada juga keplesetnya. Pada 10 November 2010 dia menulis di harian Kompas mengatakan kesaksiannya bahwa tokoh pemuda Surabaya Soemarsono tak hadir dalam episode sengitnya pertempuran Surabaya. Soemarsono pun menjawab: dia ada di sana, tidak di Yogyakarta sebagaimana yang dikatakan oleh Rosihan. Bisa jadi Rosihan lupa karena faktor usia. Maka dia pun pasang ancang-ancang jurus apologia di awal artikelnya dengan mengatakan, “pada usia 88 tahun apalah yang saya ingat dari peristiwa 10 November 1945 –65 tahun silam– saat arek Suroboyo melawan tentara Inggris. Wajah orang zaman itu telah kabur, namanya lupa, kejadiannya pun tampak samar-samar.”


Rosihan bukan tipe wartawan yang suka didebat. Ada kesan angkuh pada dirinya dan uniknya dia akui sendiri sifatnya itu. Dalam otobiografinya, Menulis Dalam Air, Rosihan menulis kalau sifat itu sudah pembawaannya. Dia hendak mengatakan bahwa itu di luar kendalinya dan sudah melekat secara alamiah sehingga sulit untuk diubah. Di akhir kalimat tulisan tentang sifatnya itu dia berpolah sebagai orangtua yang baik ketika menasehati anaknya: “anak muda jangan tiru saya, ya,” katanya.


Kesan angkuh itu semakin kuat ketika dia mengeritik orang lain. Suatu kali dia pernah mengejek wartawan senior Goenawan Mohamad tak bisa menulis karena tak punya banyak pengalaman meliput. Rosihan lantas menunjuk kolom catatan pinggir yang terbit di majalah Tempo “tak bisa dibaca” dan hanya orang tertentu saja yang bisa membaca dan memahami isi tulisan pendiri majalah Tempo itu. Buat yang mahfum sifatnya tentu tak ada guna memasukkan komentar itu ke dalam lubuk hati.


Itulah Rosihan Anwar, wartawan lima zaman yang pantang tunduk pada kekuasaan namun menyerah pada takdir kematian yang menjemputnya pagi hari 14 April 2011.(*)
Oleh: Bonnie Triyana
Sumber: Majalah Historia 

Artikel Terkiait:

LAWmotion: Membumikan Hukum Lewat Animasi

Wednesday, April 13, 2011

 Ilustrasi LAWmotion

Rabu, 13 April 2011
Jakarta - Masalah hukum dan kebijakan kadang sulit untuk dicerna. Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) mencoba membumikannya dengan animasi di YouTube.

PSHK melakukannya melalui publikasi bernama LAWmotion. Dengan gaya Graphic Recorder, topik-topik seputar hukum jadi lebih mudah untuk dinikmati.

"LAWmotion hadir agar hukum menjadi dekat dengan masyarakat sehingga sebanyak mungkin orang bisa terlibat dengan kritis dalam pembuatan maupun pelaksanaannya," sebut pernyataan PSHK.

Sejauh ini baru ada dua video LAWmotion yang ditampilkan di kanal YouTube mereka. Video pertama membahas soal pembubaran Ormas, sedangkan video kedua membahas kinerja DPR.

"Dua episode pertama tersebut merupakan upaya awal yang tentunya masih memiliki kekurangan. Tim kerja LAWmotion akan terus berupaya meningkatkan kualitas publikasi ini agar bisa semakin baik pada masa datang," lanjut keterangan tersebut.
( wsh / wsh )

Untuk melihat presentasi LAWmotion, klik disini.

(Sumber: detiknet.com)
 

Kecanduan Gadget VS Kecanduan Narkoba

Sunday, April 10, 2011

 Photo: blogcdn.com


Kecanduan gadget dan jejaring sosial lampaui ketagihan narkoba

GADGET FREAK adalah sebutan yang tepat bagi remaja yang kecanduan gadget dan teknologi melampaui yang dirasakan pecandu rokok dan narkoba. Buktinya, hampir seribu mahasiswa diminta melepaskan ponsel, laptop dan tivi sehari saja ternyata mereka tampak bingung, panik dan stres.

Fakta itu terungkap dari hasil penelitian oleh Pusat Internasional Media & Agenda Umum (ICMPA) dan Akademi Salzburg pada media dan perubahan global. Kesimpulan penelitian: "kebanyakan siswa... gagal melepaskan 24 jam penuh tanpa media."

Penelitian yang diberi judul The World Unplugged menggambarkan reaksi yang sama dari mahasiswa yang menjadi obyek penelitian.

Profesor Susan Moeller yang memimpin penelitian mengatakan teknologi telah mengubah hubungan siswa. "Mereka berbicara tentang bagaimana kecanduannya mereka."

Hasil penelitian ini patut menjadi perhatian remaja dan orangtua di Indonesia, karena gejala tersebut sudah mulai tampak.

Para peneliti menemukan hampir empat dari lima siswa merasa tertekan mental dan fisiknya secara signifikan yang tampil dalam

bentuk panik, kebingungan, dan isolasi ekstrim saat dipaksa untuk melepaskan ponsel, komputer dan tivi sehari saja.

Mereka menemukan mahasiswa di kampus seluruh dunia mengaku sedang ´kecanduan´ teknologi modern seperti ponsel, laptop, televisi serta jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

Penelitian melibatkan hampir 1.000 mahasiswa yang berasal dari 12 kampus di 10 negara termasuk Inggris, AS, China. Ternyata  menunjukkan gejala yang sama, mereka tidak mampu menghindari secara sukarela gadget-nya selama satu hari penuh.

Reaksi dari hilangnya gadget selama satu hari membuat mereka rewel, bingung, cemas, mudah tersinggung, gelisah, panik, cemburu, marah, kesepian, ketergantungan, depresi, gelisah dan paranoid.

Penelitian menemukan satu dari lima melaporkan perasaan mirip kecanduan sedangkan lebih dari satu dari tiap 10 orang mengaku bingung. Hanya 21% yang mengatakan mereka bisa merasakan manfaat penelitian.

Responden asal Inggris mengaku tidak butuh alkohol, rokok dan kokain. "Saya hanya butuh ponsel."

Lainnya berujar, tidak tahu harus melakukan apa. "Saya seperti haus dan ingin minum."

Peserta penelitian ketiga mengaku menjadi bulimia ketika kehilangan jejaring sosial. "Saya kelaparan untuk 15 jam penuh."

Profesor Moeller menambahkan, beberapa dari mereka ingin pergi tanpa gadget untuk sementara waktu. "Tetapi tidak bisa, karena mereka takut dikucilkan teman-temannya."

Romusha di Seberang Lautan

Monday, April 4, 2011

 Ilustrasi: Majalah Historia

Berharap mendapat kehidupan yang lebih baik, mereka justru berhadapan dengan kematian. “Death Railway” menjadi saksi kekejaman Jepang semasa perang.

BANJARNEGARA, Jawa Tengah, 1943. Karja Wiredja meninggalkan desanya, Matukara. Bersama ribuan romusha lainnya, Karja menjadi tenaga kerja kasar di Thailand. Di sana dia menjadi mandor pada proyek pembangunan jalan kereta api Nong Pla Duk (Thailand)-Thanbyuzayet (Burma, kini Myanmar) sepanjang 415 km. Untuk hasil kerjanya, Karja mendapat dua sen per hari.

“Waktu itu lurah bilang kita boleh ikut Nippon,” ujar Karja, seperti dikutip dari Suara Independen, 1 Agustus 1995.

Sadin, pemuda asal Kuningan, Jawa Barat, tak pernah berpikir akan pergi sejauh itu. Dia pergi ke Cirebon untuk sebuah pekerjaan yang dijanjikan tapi ternyata dia dikirim ke Thailand. Belum sampai di tujuan, para romusha ini mendapat pelayanan tidak manusiawi. “Rombongan yang semula berjumlah 1.500 orang itu hanya sisa beberapa ratus orang setelah tiba di Singapura,” tulis Aiko Kurosawa dalam Mobilisasi dan Kontrol: Studi Tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945.

“Aku tahu bahwa mereka diangkut dengan gerbong-gerbong yang tertutup rapat tanpa udara, dipadatkan seperti hewan dalam jumlah ribuan sekaligus,” tulis Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Tapi, “kondisi yang lebih menyedihkan justru menunggu mereka yang beruntung tetap hidup dalam perjalanan menuju tujuan mereka,” tulis Aiko.

Sejak Desember 1941, Thailand jatuh ke tangan Jepang. Dari Thailand, pasukan Jepang menginvasi Burma dan merebutnya dari kontrol Inggris. Untuk mempertahankan pasukannya di Burma, Jepang mengirimkan pasukan dan perbekalan ke Burma melalui laut. Tapi jalur laut rentan dari serangan Sekutu, sehingga Jepang memikirkan jalur alternatif.

Pada Juni 1942, Jepang memulai proyek pembangunan jalan kereta api yang menghubungkan Thailand-Burma dengan mendatangkan baja dan tenaga kerja (romusha) dari wilayah-wilayah yang didudukinya. Selain romusha dari Jawa, ada romusha dari China, Malaya, Vietnam, juga tentara Sekutu yang tertawan Jepang. Total ada lebih 100 ribu romusha Asia Tenggara dan 55 ribu tawanan Sekutu.

Para romusha mendapat bayaran setara pekerja kasar umumnya, meski tak semua sama. Diperkirakan, menurut Aiko, upah harian mereka f. 0,70-1,00. Jumlah ini sedikit lebih tinggi dari ketetapan dalam “Persetujuan Pemasokan Romusha Antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut”: f. 0,50 per hari dan harus disisihkan f. 3,00 untuk dikirim kepada keluarga mereka setiap bulan. Namun, seringkali upah mereka dipotong oleh mandor atau pejabat yang mengkoordinasikannya.

Nasib romusha dalam pembangunan jalan kereta api, yang dikenal dengan istilah “Death Railway”, amat memilukan. Mandor atau serdadu Jepang berlaku kejam. Medannya berat, menembus lembah dan hutan lebat. Mereka bekerja di bawah guyuran hujan, jalanan berlumpur, atau terik menyengat. Jatah makanan minim. Fasilitas dan tenaga medis tak memadai, sementara wabah kolera, disentri, dan sebagainya berjangkit. Bahkan, seperti kesaksian Sadin, romusha yang tidak bisa bekerja lagi lantaran sakit, dikubur hidup-hidup. “Seolah-olah ada perhitungan bahwa akan lebih murah untuk memasok romusha baru daripada mengambil risiko merawat atau memulihkan kembali mereka yang sakit,” tulis Aiko.

Tak heran jika banyak romusha dan tawanan Sekutu yang tewas. Commonwealth War Graves Commission, organisasi nirlaba yang bergerak menyantuni para keluarga tentara Sekutu yang jadi korban Perang Dunia II, melalui situsnya www.cwgc.org, mencatat, “Sepanjang pembangunan jalur itu, kira-kira 13.000 tawanan perang tewas dan dimakamkan di sepanjang lintasan. Diperkirakan 80.000-100.000 warga sipil juga tewas dalam proyek yang sama, terutama para buruh yang dibawa dari Malaya dan Hindia Belanda, atau wajib militer di Siam (Thailand) dan Burma.”

Tak ada angka pasti berapa jumlah romusha asal Jawa yang tewas. Dalam "Notes on the Thai-Burma Railway, Part II: Asian Romusha; The Silenced Voices of History" David Boggett menulis, dari 200.000-500.000 romusha asal Jawa yang dikerahkan, hanya sekitar 70 ribu yang masih hidup ketika perang berakhir.

Banyak romusha melarikan diri. Bagi mereka yang sial, bisa saja tewas di perjalanan atau di tangan Jepang. Sedangkan yang bernasib baik bisa kembali ke daerah asal atau tempat aman ketika perang berakhir. “Sadin dan yang masih sempat melarikan diri seperti dia berpencaran di Malaya dan Thailand,” tulis Aiko. Dia akhirnya berhasil kembali ke tanah air meski harus menunggu lebih dari 10 tahun.

Sedangkan Karja sempat nikah-cerai di Thailand. Karena itu pula dia tertinggal kapal Palang Merah Internasional yang membawa para romusha kembali ke daerah asal. Karja terpaksa menetap di tanah rantau dan baru bisa pulang ke desanya 52 tahun kemudian.
[MF MUKTHI]
Sumber: Majalah Historia 

Ada Apa dengan Bendera?

Saturday, April 2, 2011

 Ilustrasi: Majalah Historia

Menghormati bendera bukan untuk memuliakannya tapi menghargai nilai kebangsaan di dalamnya.
 
DALAM rubrik Konsultasi Ulama di tabloid Suara Islam edisi 109 (18 Maret-1 April 2011), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH A. Cholil Ridwan mengharamkan umat Islam untuk memberi hormat kapada bendera dan lagu kebangsaan. Landasannya fatwa ulama Saudi Arabia pada 26 Desember 2003.


Pernyataan pribadi Cholil mendapat dukungan dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Baasyir. Sementara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengharamkan jika niatnya untuk menyucikan bendera; tapi tak masalah jika hanya seremonial. MUI sendiri bilang tak pernah mengeluarkan fatwa haram.


Larangan menghormati bendera pernah dikeluarkan Persatuan Islam (Persis) berdasarkan Musyawarah Dewan Hisbah pada 10 Mei 1985. Menurut Badri Khaeruman dalam Islam Ideologis: Perspektif Pemikiran dan Peran Pembaruan Persis, tradisi menghormati bendera secara selintas bukan termasuk kegiatan ritual keagamaan, namun dalam pandangan para ulama Persis hal ini bernilai agama.


“Menghormati bendera adalah suatu perbuatan yang melawan hukum aqli (berdasarkan akal) dan naqli (berdasarkan al-Qur’an dan hadis), yang menjurus pada kemusyrikan,” tulis Badri. “Karena itu, di sekolah-sekolah Persatuan Islam, bendera merah-putih sebatas dipasang. Para pelajar sekolah di lingkungan Persatuan Islam tidak diharuskan untuk mengadakan upacara bendera sebagaimana kebiasaan di sekolah lain pada umumnya.”


Rasanya terlalu berlebihan jika mengormati bendera adalah haram. Sebab, bendera hanyalah lambang. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 40 tahun 1958 menyebut, bendera merah-putih adalah lambang kedaulatan dan tanda kehormatan Republik Indonesia. Sementara Undang-undang No 24 tahun 2009 menyebut bendera sebagai sarana pemersatu, identitas, dan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan negara. Bendera juga merupakan manifestasi kebudayaan.


Bendera mulanya disebut vexilloid. Kata ini berasal dari bahasa Latin, artinya panduan. Ia berupa logam atau tiang kayu dengan ukiran di atasnya. Baru sekira 2.000 tahun lalu, potongan kain atau bahan ditambahkan untuk dekorasi. Bahkan bendera menjadi kajian tersendiri, disebut vexillology. Organisasinya, Fédération Internationale des Associations Vexillologiques (FIAV) yang dibentuk pada 3 September 1967 di Rüschlikon, Swiss, mengadakan International Congress of Vexillology dua tahun sekali. Tahun ini akan diselenggarakan di Washington DC, Amerika Serikat.


Bendera pertama digunakan untuk memberikan informasi dan membantu koordinasi militer di medan perang. Para ksatria, dalam seragam dan perlengkapan baju besi, membawa bendera agar membantu membedakan mana kawan dan mana lawan.


Selama Abad Pertengahan, bendera yang digunakan adalah bendera heraldik, yang berisi lambang, lencana, atau perangkat lain untuk identifikasi pribadi. Selama puncak pelayaran, dimulai pada awal abad ke-17, kapal laut biasa bendera kebangsaan mereka –kemudian menjadi persyaratan hukum. Di laut, bendera berfungsi untuk mengirimkan pesan atau komunikasi.


Penggunaan bendera di luar konteks militer atau angkatan laut dimulai saat kemunculan sentimen nasionalisme pada akhir abad ke-18. Dan selama abad ke-19 hingga kini, setiap negara berdaulat harus memperkenalkan bendera nasionalnya.


Bagaimana dengan Indonesia?


Adalah Muhammad Yamin yang menelusuri sejarah merah-putih hingga zaman Majapahit, bahkan hingga zaman purba. Dia menguraikannya dalam 6000 Tahun Sang Merah-Putih yang diterbitkan sebagai peringatan 30 tahun Sumpah Pemuda pada 1958. Dia mendasarkan penafsirannya dari warna yang ditemukan pada masyarakat Indonesia di masa purba hingga kebiasaan tradisional bubur merah dan putih untuk menjelaskan eksistensi dan kesakralan bendera nasional. Karya Yamin, juga generasi awal sejarawan Indonesia pascakolonial, menunjukkan bahwa, “Sejak awal perkembangannya, historiografi Indonesia sentris ternyata cenderung menjauh dari sejarah objektif karena berkembangnya prinsip dekolonisasi historiografis yang bersifat ultranasionalis dan lebih mementingkan retorika,” tulis Budi Susanto SJ dalam Membaca Postkolonialitas (di) Indonesia.


Terlepas dari kritik atas karya Yamin, sejarah mencatat bagaimana merah-putih dikibarkan para pemuda pergerakan. Di negeri penjajah Belanda, tulis R.E. Elson dalam The Idea of Indonesia, rasa identitas kebangsaan Indonesia itu mulai terwujud dalam lambang pada 1920. Dalam Kongres Perkumpulan Mahasiswa Indonesia (Indonesisch Verbond van Studeerenden/IVS) di Lunteren, Belanda, Agustus 1920, “terlihat ada bendera merah-putih bersebelahan dengan bendera Belanda biru-merah-putih menghiasi mobil ketua kongres, sementara bunga-bunga dahlia merah dan putih dalam vas menyemarakkan aula kongres.”


Bendera merah-putih juga berkibar dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Kramat 106 Jakarta, yang melahirkan Sumpah Pemuda. Bahkan kemudian sebuah laporan intelijen dari Kepala Seksi Badan Informasi Politik Belanda dari Surabaya, 19 Juli 1933, menyebutkan bendera Belanda hilang dari kampung-kampung. “Sebelumnya bendera Belanda dikibarkan di acara-acara perayaan, sekarang bendera itu digantikan warna-warna merah-putih…,” tulis Elson.


Dua minggu setelah Jepang masuk ke Indonesia, pemerintah pendudukan langsung melarang penggunaan dan pengibaran bendera merah-putih. Jepang justru mewajibkan kepada rakyat Indonesia untuk menghormati bendera Jepang, Hinomaru, setiap pagi sambil menghadap matahari terbit, untuk memuliakan Kaisar Jepang Tenno Heika. Perintah ini menimbulkan perlawanan dari KH Zainal Mustafa dan para santrinya di pesantren Sukamanah, Tasikmalaya, pada Februari 1944. “Perintah Jepang untuk melakukan kyujo yohai (penghormatan kepada istana kaisar Jepang) dianggap sebagai gangguan terhadap agama mereka,” tulis Aiko Kurasawa dalam Mobilisasi dan Kontrol.


Barulah saat berada diujung tanduk dalam Perang Pasifik, Jepang memberikan janji kemerdekaan bagi Indonesia serta memperbolehkan bendera merah-putih dan lagu Indonesia Raya. Bertepatan dengan hari Pembangunan Asia Timur Raya, 8-9 September 1944, Soomubucho (Kepala Staf Bagian Umum) mengumumkan: “… pada hari ini balatentara telah memperkenankan untuk memakai bendera kebangsaan Indonesia, juga diperkenankan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai nyanyian Indonesia.” Pengumuman tersebut dimuat Sinar Baroe, 9 September 1944.


Perayaan pun digelar di mana-mana, “termasuk  upacara penaikan bendera merah-putih pada 9 September 1944 di Gambir yang dihadiri 40 ribu orang untuk merayakan akan merdekanya Indonesia, dan rasa lega karena tercapainya cita-cita sudah di depan mata,” tulis Elson.


Puncaknya terjadi pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sejak itu, euforia mewabah. Hingga akhir Agustus 1945, tulis Elson, gambar tempel dan bendera kecil merah-putih muncul di kota dan tak lama kemudian membanjiri kota Surabaya. Sampai-sampai, Komandan Wing T.S. Tull dari Angkatan Udara Inggris, yang diterjunkan ke Jawa Tengah pertengahan September 1945 untuk mengawasi “perlindungan dan pembebasan” tawanan perang dan interniran Sekutu, mengatakan, “Di pihak Indonesia, bukti kekuatan dan pengaruh gerakan nasionalis ada di mana-mana. Tak satu pun rumah dan bangunan umum yang tidak punya bendera Indonesia.”


Di Surabaya pula terjadi “insiden bendera” di Hotel Yamato Surabaya –sebelumnya Hotel Orange dan sekarang Hotel Majapahit– pada 19 September 1945. Peristiwa bermula ketika sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera merah-putih-biru di atas hotel. Sebelum hari siang, Residen Surabaya Sudirman datang. Dia meminta agar bendera Belanda diturunkan tapi ditampik. Di luar, puluhan pemuda tak sabar lagi. Bentrokan tak dapat dielakkan. Beberapa orang naik, merobek dan membuang kain berwarna biru dari bendera Belanda, lalu mengibarkan sisanya, merah-putih, di tempat semula.


Bendera merah-putih sudah melintasi sejarah panjang. Menghormati bendera bukan berarti memuliakan bendera itu sendiri, tapi menghargai sejarah dan simbol kebangsaan dan kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan airmata.


(Sumber: Majalah Historia, Kamis, 31 Maret 2011)