Showing posts with label HUTRI. Show all posts
Showing posts with label HUTRI. Show all posts

17 Agustus Versus 1 Oktober

Saturday, August 20, 2011

Ilustrasi: Google.com
Oleh:
Max Lane


Saya datang ke Indonesia pertama kali 1969 dan sudah berkali-kali kembali ke Indonesia. Sebagai seorang yang memulai perjalanan kehidupan intelektual sebagai mahasiswa jurusan studi Indonesia, sejak semula saya bergairah untuk belajar sejarah Indonesia – apalagi bila dibandingkan dengan sejarah Australia. Meskipun sejarah Australia juga penuh dengan kisah perjuangan rakyatnya (biasanya melawan elit kaya, baik kolonial maupun modern), ini tak bisa dibandingkan dengan Indonesia. Indonesia mengalami revolusi; rakyat Indonesia menjalankan sebuah revolusi; negeri Republik Indonesia, yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 dan berhasil mengusir kekuatan politik kolonial tahun 1949, tercipta oleh sebuah revolusi nasional yang prosesnya sudah berlangsung 30-40 tahun sebelumnya.

Semua revolusi dalam sejarah manusia adalah fenomena hebat. Sudah beribu-ribu buku ditulis untuk mendefinisikan dan menganalisa apa itu revolusi. Sudah jelas ada berbagai jenis revolusi; dan juga cara orang memandang revolusi sering tergantung ideologinya dan kepentingannya. Kata revolusi dalam bahasa Inggris bermakna perubahan besar dan drastis dalam situasi politik. Kata itu mulai digunakan pada pertengahan abad 15 dan berasal dari bahasa Latin yang artinya bergelombang balik.

Buat saya, ada dua sifat yang harus dimiliki oleh semua revolusi sosial-politik sejati. Pertama, sebuah revolusi akan memutar-balikkan struktur kekuasaan yang berlaku. Kedua, baik di dalam proses menggulingkan maupun memutarbalikkan struktur kekuasaan tersebut mestinya bisa melahirkan makhluk yang baru secara esensi sebagai hasil dari proses revolusi itu sendiri. Revolusi memutarbalikkan kekuasaan (menghancurkan struktur lama dan mendirikan yang baru) sekaligus kreatif; menciptakan sesuatu mahluk yang baru, yang jauh lebih fenomenal daripada sekedar struktur kekuasaan yang baru. Begitu juga revolusi Indonesia. Struktur kekuasaan kolonial – di mana kekuasaan politik dan ekonomi terpusat sepenuhnya di Den Haag, Amsterdam dan Rotterdam – dihancurkan dan sebuah struktur kekuasaan baru didirikan.

Semula kelas kapitalis Belanda mengisi kelas penguasa; kekuasaan kelas itu terkalahkan oleh kelas-kelas sosial lain yang tadinya terkuasai dan tereksplotasi, terutama kelas buruh, kelas petani kecil maupun kelas borjuis dalam negeri Indonesia. Situasi mulai teresmikan pada 27 Desember 1949 ketika pemerintah Belanda mengakui mahluk yang bernama Republik Indonesia Serikat (RIS). Tapi RIS ini masih mengandung negeri-negeri yang dikuasai secara tak formal oleh Belanda. Sesudah mengalami berbagai gejolak, RIS bubar dan diproklamasikan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1950.

Tetapi kreativitas revolusi nasional Indonesia jauh lebih dahsyat daripada sekadar melahirkan sebuah mahluk formal, yaitu Republik Indonesia. Revolusi Indonesia yang sebenarnya sudah mulai sejak awal abad 20 melahirkan orang Indonesia, bangsa Indonesia dan kebudayaan Indonesia – semuanya yang tak pernah berdiri di atas muka bumi sebelumnya. Makanya kata atau nama Indonesia juga tadinya tidak ada; tidak eksis. Yang ada sebelumnya bukan orang Indonesia, tetapi orang Jawa, orang Aceh, orang Dayak, dan seterusnya. Juga tidak ada kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia mulai ada dengan munculnya sastra berbahasa Melayu (baru) dalam bentuk cerpen, roman, drama, syair, lagu, esei dan pidato yang kemunculannya bersamaan dengan kelahiran organisasi sosial-politik modern.

Kalau kita mempelajari fenomena munculnya kebudayaan baru itu – baik sastranya (semua produk tertulis, kemudian produk budaya lain) bersama kegiatan berorganisasi secara sosial politik, memang kita pasti akan terinspirasi sekali oleh kekayaanya akan visi, pengalaman, ide, dan memang kreativitasnya. Belum lagi perjuangan militer, politik, intelektual, budaya dan dipomatik yang sangat intensif sekali diantara tahun 1945 dan 1949.

Luar biasa memang. Buat saya sendiri, saat zaman saya mahasiswa (1969-1972) merasa sangat exciting – dan saya selalu ingin berangkat secepatnya ke Indonesia.

Tetapi semakin sering saya berkunjung ke Indonesia semakin saya terkesan oleh sebuah hal yang, buat orang yang baru kenal Indonesia pada waktu itu, sangat mengecewakan. Kegiatan-kegiatan dan suasana menjelang dan pada hari kemerdekaan tak ada apa-apanya. Ada sebuah pidato oleh presiden Suharto di televisi yang kurang diperhatikan masyarakat. Ada lomba-lomba buat anak-anak di kampung. Ada pawai-pawai yang sangat formal. Tidak ada gaung sama sekali dari kehebatan revolusioner periode 1900-1949. Tak ada penghayatan perjuangan panjang di semua bidang yang menciptakan Indonesia sendiri. Ide-ide yang merupakan asal-usul adanya Indonesia sendiri – kemerdekaan, keadilan, perjuangan, rakyat, pergerakan, kedaulatan, sekali lagi kemerdekaan – tidak hadir sama sekali.

Serba formal, dangkal dan penuh kelupaan. Sama garingnya dengan peringatan hari nasional Australia yang memperingati deklarasi non-revolusioner perkumpulan orang-orang elit putih Australia tahun 1901. Indonesia memiliki warisan politik dan budaya revolusioner, tetapi dilupakan.

Sesudah saya semakin kenal dengan sejarah Indonesia, situasi ini semakin lebih bermakna buat saya. Saya sempat beberapa kali menonton footage Sukarno bicara pada 17 Agustus sebelum 1965. Saya juga mendengarkan pidato-pidatonya. Saya memulai membaca tentang kegiatan peringatan 17-an sebelum 1965. Saya menemukan keadaan yang justru sebaliknya. Sebelum 1965, peringatan 17 Agustus adalah saat diluncurkannya ide-ide politik baru oleh Sukarno yang kemudian akan ramai dibicarakan oleh puluhan juta orang dan bahkan diperdebatkan. Boleh setuju atau benci ide-ide itu, tetapi kenyataannya ialah seluruh masyarakat mendiskusikannya sebagai bagian memikirkan masa depan Indonesia, bersama-sama, beramai-ramai. Bahkan anggota-anggota partai-parti terlarang (Masyumi dan PSI, misalnya – yang seharusnya tidak perlu dilarang) juga ikutan mendiskusikannya, mengingat bahwa berbagai organisasi mereka masih legal dan aktif. Tetapi arus berbalik tahun 1965.

Saya kira sejak 1965, dalam ideologi Orde Baru Suharto (OBS), 1 Oktober – Hari Kesaktian Pancasila – lebih penting daripada 17 Agustus. Ini – antara lain – tercermin olek definisi OBS terhadap 17 Agustus: hari Proklamasi dan juga definisi politik buat Sukarno dan Hatta – terutama Sukarno – sebagai sekadar Proklamator. Dengan definisi tersebut, ide-ide mereka yang merupakan motor penggerak ideologis revolusi nasional dinegasikan. Terbukti pula bahwa selama OBS, tulisan-tulisan Sukarno dilarang. Sebenarnya ide revolusi itu sendiri dilarang. Memang karena apa yang dijalankan oleh kekuatan OBS dari tahun 1965 sampai 1970-an adalah sebuah kontra-revolusi. Tidak mungkin sebuah kekuatan yang menjalankan kontra-revolusi akan mampu menghayati secara sejati arti sebuah hari peringatan revolusi –sebuah hari yang memperingati betapa bergairahnya proses di mana rakyat tertindas memutarbalikkan struktur kekuasaan serta menciptakan sebuah mahluk baru bernama Indonesia. Revolusi nasional Indonesia – kalau sejarah sesungguhnya bisa dihayati –akan ingat kembali bahwa rakyatlah yang menciptakan Indonesia dan Indonesia adalah milik mereka bersama, bukan milik segelintir siapa pun.

Celakanya, kontrarevolusi OBS bukan saja kontra-revolusi yang menggagalkan sebuah revolusi sosial (sosialis) yang sepertinya mungkin akan segera mengancam memutarbalikkan struktur ekonomi kapitalis Indonesia, tetapi juga menggagalkan revolusi nasonal Indonesia yang belum tuntas sebelumnya.

Pemimpin OBS secara sukarela dan dengan semangat (kerakusan) mengundang masuk kembali penanam modal dari negeri-negeri imperialis dengan syarat-syarat sangat minimal sesuai dengan yang diminta oleh Washintgton, London, Tokyo dan lain-lain. Hampir seluruh warisan budaya dari revolusi nasional Indonesia sengaja dihilangkan dari medan kebudayaan Indonesia. Sejarah Indonesia ditulis kembali dengan banyak kepalsuan-kepalsuan dan itu pun hanya untuk dihapalkan. Pada tahun 1970-an kesusasteraan nasional Indonesia tidak lagi dipelajari dengan serius di sekolah. Banyak sekali sastra dan tulisan dilarang. Tindakan ini, dalam bidang ekonomi serta budaya memang merupakan sebuah pe-negasi-an revolusi nasional Indonesia. Tak mungkin 17 Agustus akan bisa diperingati dan dihayati secara sejati. Indonesia didirikan dan diciptakan bukan sekadar berkat proklamasi tetapi karena revolusi. Menghayati 17 Agustus, butuh menghayati apa itu revolusi dan mengapa revolusi itu sebuah proses yang kreatif dan membebaskan manusia.

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober adalah hari memperingati kemenangan pertama kontrarevolusi OBS. Saya perlu mencatat di sini bahwa dalam pendapat saya peristiwa Gestapu atau Gestok adalah perbuatan ngawur, idiot, dan keblinger. Sebuah konspirasi tengah malam yang tidak bisa dibenarkan. Tetapi tindakan-tindakan Suharto sebagai panglima Kostrad pada waktu itu tidak sekadar bertindak merespons sebuah konspirasi malam yang illegal. Suharto, jelas dengan sadar, meluncurkan sebuah kontarevolusi untuk membalikkan arus politik yang sedang berkembang. Tindakannya tidak hendak mengadili segelintir orang – baik Aidit maupun yang militer - yang menjalankan konspirasi tengah malam yang illegal. Tindakannya merupakan awal dari sebuah proses membasmi dan menindas gerakan sosial, politik, dan budaya yang didukung jutaan rakyat Indonesia yang berbasis ideologi sosialisme.

Ratusan ribu orang kemudian dibunuh tanpa proses hukum apa pun. Mungkin ratusan ribu juga ditahan untuk jangka waktu pendek, serta disiksa secara bengis. Puluhan ribu lain ditahan selama bertahun-tahun tanpa pengadilan apa pun. Ini dijalankan oleh Suharto, dengan memakai tentara (yang sudah dibersihkan dari perwira dan serdadu yang pro-Sukarno) dan didukung keras oleh kaum intektual anti-komunis (Angkatan 66).

Pembasmian dan penindasan ini membuka jalan untuk program ekonomi dan budaya yang anti-revolusi nasional yang saya sudah sebut di atas. Represi itu dan semua program politik OBS yang anti-demokratis yang menyusul kemudian di antara tahun 1968-1990-an sebagai program politik yang menegasikan peran rakyat Indonesia dalam kehidupan politik negeri Indonesia sekaligus merupakan tindakan anti-nasional. Rakyat Indonesia – massa miskin dan marhaen, bersama mahasiswa dan intelektual muda yang aktivis – adalah mereka yang menciptakan Indonesia melalui revolusinya. Program politik OBS merampok kedaulatan politik rakyat dari tangannya. 1 Oktober juga merupakan awal dari budaya yang berdiri di atas kebohongan-kebohongan besar, mulai dari kebohongan bahwa wanita-wanita komunis menyiksa para Jenderal yang diculik tengah malam sampai dengan kabar bohong mutilasi yang tak berdasar pada otopsi dokter-dokter Angkatan Darat sendiri.

Buat OBS, 1 Oktober jelas lebih bermakna. Tetapi, saya kira masalahnya lebih dalam, lebih mendasar lagi. Kontrarevolusi 1965 terjadi 46 tahun yang lalu. 46 tahun merupakan hampir duapertiga dari kehidupan negeri Indonesia. Mayoritas orang Indonesia lahir selama zaman OBS. Mayoritas besar orang Indonesia menjadi dewasa di bawah OBS dan tidak kenal langsung Indonesia sebelum 1965. Karena selama 40 tahun berjuta-juta anak Indonesia tidak diajarkan untuk menghayati sastra mau pun sejarahnya sendiri, sebagian besar rakyat Indonesia tidak mengenal proses kelahiran Indonesia itu sendiri. Selama periode ini pula sel struktur dan kehidupan ekonomi Indonesia juga berubah. Dulu Indonesia negeri pedesaan; sekarang lebih sebagai negeri urban dengan puluhan juta rakyat miskin tinggal di pusat kota yang sangat padat, dan sering kumuh. Dulu, sebelum 1965, kelas kapitalis Indonesia hanya terdiri dari ribuan pengusaha-pengusaha kecil, dengan beberapa pengusaha menengah yang dibantu pemerintah.

Pada kurun 1956-1965 hampir semua sektor modern sudah resmi di tangan negara. Sekarang ada konglomerat kroni Suharto yang tumbuh selama masa OBS hasil dari KKN nasional. Selain mereka juga ada ribuan 'konglomerat' tingkat daerah hasil KKN lokal yang sekarang ada di mana-mana dan sering maju menjadi bupati dan gubernur di seluruh penjuru Indonesia. Tanpa landasan kuat berupa pengetahuan dan penghayatan akan sastra dan sejarah nasionalnya, kebudayaan yang berkembang lebih terpengaruh konsumerisme kosmopolitan dan “budaya” sinetron yang tak rasional, dangkal dan melayani keinginan melarikan diri dari realitas yang pahit daripada bangkit berusaha untuk mengubah realitas tersebut.

Apakah memang sudah ada dua Indonesia: Indonesia hasil kontra-revolusi 1965 yang berdiri di atas penindasan, pembohongan dan KKN atau Indonesia hasil revolusi nasional 1900-1965 yang oleh kekuasaan OBS dieliminasi dari ingatan massa secara sistematik. Akan tetapi kemudian pelahan-pelahan dengan langkah tegas mulai bangun kembali dalam bentuk perlawanan-perlawan terhadap OBS selama tahun 1970an - 1990an. Proses melawan dan mengakhiri Orde Baru (1974-1998) juga sebuah proses kreatif, hanya belum tuntas pula dan masih menghadapi pilihan.

Jadi sekarang mau pilih Indonesia yang macam apa? Indonesia 17 Agustus 1945 atau Indonesia 1 Oktober 1965? *

Source: Here

Mengintip Istana Enam Presiden (2)

Photo Google.com
Oleh:
Agus Dermawan T


Gus Dur Biru, Mega Merah-Putih, SBY 'Ijo Royo-royo'

Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur berada di Istana Presiden selama 1999-2001. Pada masa pemerintahan Gus Dur, Istana Presiden dikembalikan menjadi rumah rakyat. Semua hal yang sifatnya protokoler dibikin kendur. Hampir setiap orang yang berkepentingan dipersilakan masuk ke Istana. Pada masa kekuasaannya, Gus Dur relatif hanya menggunakan istana yang di Jakarta saja.

Gus Dur pada prinsipnya membiarkan keadaan Istana Presiden seperti sediakala. Aneka keramik yang berbentuk vas besar, piring, guci dibiarkan tertata di sejumlah almari dan sudut-sudut ruang. Ada, memang, yang menawarkan perubahan materi interior. Namun Gus Dur menolaknya. "La, diubah bagaimanapun saya juga gak liat. Jadi, buat apa," katanya serius.

Gus Dur memiliki dua kantor kepresidenan di kompleks Istana Negara. Kantor itu, gedung Bina Graha, bekas kantor Presiden Soeharto, dan gedung sayap kiri Istana Negara. Interior kantor Presiden di Bina Graha tidak diubah sedikit pun. Bahkan pemisah ruangan berupa kulit bertatah wayang warisan Pak Harto, yang memisahkan ruang makan, tidak banyak bergeser. Begitu pula hiasan dinding di lorong kantor sayap kiri Istana. Lukisan Gajah Mada karya Henk Ngantung, serta lukisan pemandangan karya Basoeki Abdullah, terpajang tenang.

Sementara Gus Dur dan keluarganya tinggal di sayap kanan Istana Negara, di sini sentuhan seni istrinya, Siti Nuriyah Abdurrahman Wahid, tampak. Sebagian besar elemen rumah, dari gorden sampai permadani, didominasi warna biru. Alasannya, seperti diungkapkan First Lady: istana-istana negara yang pernah ia kunjungi di dunia tidak ada yang berwarna biru. Karena itu, keluarga Gus Dur memulainya. Sementara itu, di dinding tergantung khat atau gambar kaligrafi Arab.

Meski demikian, ada satu hal yang oleh Gus Dur diubah. Di dalam ruang Istana Presiden, apalagi di ruang kerja Presiden dan stafnya, harus bersih dari patung-patung tiga dimensi. Patung-patung tersebut, yang meliputi karya-karya seniman Indonesia dan seniman berbagai negara, lantas "dibuang" ke luar ruangan, seperti taman atau sehamparan lapangan luas. Patung-patung yang relatif kecil, oleh pihak pengelola benda seni Istana, dimasukkan ke gudang Sanggar Seni Rupa Istana Presiden.

Ada yang mengatakan bahwa ide "pembuangan" patung itu bukan murni dari Gus Dur, melainkan dari beberapa penasihatnya yang menganggap patung sebagai embrio berhala. Namun Gus Dur bertanggung jawab atas semua itu. Ia meyakini para penasihatnya paham bahwa pasal keberhalaan dalam Islam adalah "tafsir masa silam" yang sudah dikaji berdasarkan asbabul wurud (musabab, setting, latar belakang turunnya hadis). Sehingga patung-patung figuratif itu untuk masa sekarang sudah mubah, atau boleh. Jadi, "pembuangan" itu hanya soal estetika dekorasi Istana saja.


Mega yang artistik

Megawati Soekarnoputri sesungguhnya telah "menguasai" Istana sejak 1999, kala ia menjadi wakil presiden. Namun pada periode itu ia menahan diri karena, biar bagaimanapun, Gus Dur adalah bosnya. Pada 2001, ia mulai merasa bahwa Istana, yang sudah mewariskan sekitar 15 ribu benda seni, adalah rumah sejatinya.

Ketika Mega berada di Istana selama 2001-2004, Istana Presiden banyak mengalami perubahan. Ia membuat kantor kepresidenan dan ruang sidang kabinet di bagian tengah kompleks Istana Negara. Kantor ini mengambil gedung yang tadinya dipakai untuk Sanggar Seni Rupa Istana Presiden dan Puri Bhakti Renatama, museum craft dan art craft cendera mata dari seluruh dunia.

Mega lalu memindahkan koleksi dua "rumah seni" itu ke gedung Bina Graha, yang dulu dipakai sebagai kantor Presiden Soeharto. Dengan pemindahan itu, berarti lembaga Sanggar Seni Rupa Istana Presiden serta Puri Bhakti Renatama dibubarkan, dan diganti dengan lembaga yang lebih besar dengan tugas yang lebih kompleks: Museum Istana Kepresidenan.

Ihwal ruang kantor utama, Mega berupaya memberikan sentuhan pribadinya. Sejumlah lukisan dan elemen interior yang dipasang menyiratkan makna khusus dan fungsi yang jelas. Di sini ada karya Walter Spies, Roland Strasser, dan Trubus Sudarsono. Di sepojok lantai secara dekorasional ter-display kerajinan gading gajah, yang melambangkan power. Untuk menyempurnakan jagat tata ruang ini, Mega mengangkat Kris Danubrata, kerabatnya, sebagai staf khusus presiden non-struktural bidang seni-budaya.

Semasa era Megawati, Istana Presiden di seluruh Indonesia layak diapresiasi interior dan eksteriornya, juga mutu elemen-elemennya. Gampang dikenang keteduhan kantor presiden serta ruang tamu di Istana Merdeka. Kegairahan Ruang Film di Istana Bogor, yang diaksentuasi lukisan filosofis Basoeki Abdullah, Bila Tuhan Murka. Seremonialnya Ruang Tamu Negara Istana Tampaksiring, yang dihiasi lukisan Gusti Ketut Kobot sampai Wayan Gedot.

Yang unik, di Ruang Tunggu Tamu Istana Negara terpancang bendera kuning bergambar bintang, padi, dan kapas. Bendera ini pada masa pemerintahan Bung Karno dipakai untuk menandai keberadaan Presiden di Istana Negara. Apabila berkibar di puncak Istana Negara, berarti Presiden ada. Apabila tidak dikibarkan, berarti Presiden berada di luar Istana. Bendera penanda ini tak dipakai lagi pada masa pemerintahan Pak Harto, bahkan pada pemerintahan Megawati. Maka, apabila direnungkan, bendera ini bisa menjelma menjadi benda dokumentasi yang banyak bercerita tentang 21 tahun keberadaan Bung Karno di Istana. Pada era Mega, Istana banyak diaksentuasi warna merah dan putih!


Pemandangan SBY

Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY resmi masuk Istana pada akhir 2004. Ia termasuk Presiden yang paling beruntung karena mendapat warisan Istana artistik dari pendahulunya, Megawati. Bahkan SBY tampak berbahagia ketika melihat Bina Graha telah menjadi Museum Istana Presiden. Pada Juli 2005, ia meninjau museum itu, dan berjanji akan mengajak para tamu negara seusai upacara 17 Agustus di Istana. Mengenai situasi interior dan eksterior Istana, SBY juga happy. Ia merasa tinggal bekerja saja, karena semuanya sudah jadi.

Tapi, lain SBY, lain pula para pembantunya. Penasihat Presiden tiba-tiba membongkar habis Museum Istana Presiden yang sudah apik dikemas. Ratusan lukisan, patung, keramik, dan perangkat wayang diringkus, dimasukkan ke gudang. Karena gudang tidak siap, koleksi yang berharga puluhan miliar rupiah itu diboyong memakai truk ke Istana Yogyakarta. Segenap pengelola Museum Istana Presiden kalang kabut.

Semasa pemerintahan SBY, keadaan Istana Presiden, terutama yang di Jakarta, Bogor, dan Cipanas, pelan-pelan berubah. SBY menginginkan suasana di Istana ijo royo-royo (hijau segar), menyenangkan, dan rekreatif. Itu sebabnya, taman bagian dalam Istana Merdeka dijadikan lapangan golf mini. Di Istana Negara, ada sport center yang bisa untuk main pingpong dan sebagainya.

Untuk ruangan, ia sangat suka memajang lukisan pemandangan yang berwarna cerah. Dari situ, ia lalu memerintahkan staf artistik Istana memburu lukisan yang realis fotografis, selaras dengan seleranya. Kini di ruang resepsi Istana Merdeka terpajang lukisan besar S. Baharrizki, pemandangan Gunung Sumbing. Di sisi-sisi lain bertebaran lukisan Yap Hian Tjay yang ringan dan manis. Di serambi Istana Cipanas dipasang lukisan-lukisan bertema bunga mekar. Di serambi itulah SBY kadang menyanyi dengan diiringi band. Ruang kerja SBY dipajangi foto-foto pribadinya yang aksi dalam bingkai yang rapi.

Bertolak dari itu, elemen-elemen interior yang bercorak ekspresif dan mengusung spirit vibrasi vitae terpinggirkan. Bahkan lukisan potret para Presiden RI yang sudah ada di Ruang Pelantikan Istana Negara juga akan diperbarui dengan yang lebih "sempurna". Atas lukisan potret ini, SBY telah memilih karya Ronald Manulang, pelukis super-realis Indonesia ternama.

SBY, dan tentu Ibu Ani Yudhoyono, memang lebih dekat dengan suasana hunian yang perfek, bercitra intelek dan halus, meski kadang terasa steril. Mirip penampilan dirinya di depan publik. *


*) Agus Dermawan T adalah Kritikus seni, penulis buku Istana-istana Presiden RI



Powered by:
Epaper Koran Tempo,
Sabtu, 20 Agustus 2011

Mengintip Istana Enam Presiden (1)

Friday, August 19, 2011

Photo Google.com
Oleh:
Agus Dermawan T


Bung Karno Merdeka, Pak Harto Takut Kualat, Habibie Islami

Sejak 17 Agustus 1945, Indonesia telah memiliki enam presiden. Dan keenam presiden itu menempati istana-istana yang sama, yakni Istana Negara dan Istana Merdeka di Jakarta, Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Yogyakarta (Gedung Agung), Istana Tampaksiring di Bali, dan Istana (peristirahatan) Tenjoresmi di Pelabuhan Ratu. Dalam setiap kekuasaannya, semua presiden mengelola Istana dengan selera pribadinya. Maka Istana pun punya enam rasa: dari rasa Bung Karno sampai rasa Susilo Bambang Yudhoyono. Mari kita cicipi "enam rasa Istana" itu.


Bung Karno

Presiden Sukarno atau Bung Karno sungguh lekat dengan kesenian. Dan kesenian itu, terutama seni rupa, membawanya menjadi kolektor sejati, connoisseur. Selama menjadi presiden pada 1945-1966, ia memiliki koleksi seni rupa sekitar 2.200. Karya seni itu sebagian besar dikumpulkan di semua Istana.

Ketika koleksinya membutuhkan penataan serius, ia mencari ahli seni untuk menangani. Pada 1950, Dullah, yang juga dikenal sebagai pejuang, diposisikan sebagai pelukis Istana Presiden. Setelah Dullah mundur pada 1960, Bung Karno mengangkat pelukis Lee Man Fong dan Lim Wasim untuk menggantikannya. Pengangkatan dua pelukis berbasis Tiongkok ini ada hubungannya dengan situasi politik kala itu, yang beraroma poros Jakarta-Peking.

Namun, meski Bung Karno punya pelukis Istana Presiden, tak berarti segala yang tertata di semua interior dan eksterior diatur oleh pelukis Istana. Menurut Dullah, Bung Karno punya konsep pribadi yang kuat, sehingga dengan merdeka ia bertindak karepe dewe (semaunya sendiri). Suatu hal yang acap melahirkan pertengkaran dengan pelukis Istana yang sesungguhnya sudah diberi mandat.

Untungnya, Bung Karno tahu seni serta memahami interior dan pertamanan. Tinggi-rendah fondasi patung, posisi keramik, sampai peletakan paku gantungan lukisan, Bung Karnolah yang menentukan. Dan ia hanya mau memajang karya yang secara teknik perfek dan secara visual indah. "A thing of beauty is joy forever", begitu ia sering berujar. Seminggu sekali ia keliling taman dan keluar-masuk kamar Istana, mengecek keindahan yang digagasnya.

Penempatan itu tak hanya berkaitan dengan estetikanya, tapi juga berhubungan dengan tema yang tersurat dalam karya. Istana Merdeka, misalnya, dipajangi lukisan yang bertema revolusi. Istana Negara diisi seni dari berbagai negara. Istana Tampaksiring dihiasi karya bertema Bali. Sementara itu, di berbagai dinding kamar, lukisan-lukisan bunga dan wanita seksi ramah menyapa.

Yang unik, sang Presiden sungguh hafal letak setiap karya yang dipajangnya. Suatu ketika pada 1961, ia mendapati lukisan Jenderal Sudirman karya Yoes Soepadyo tak ada di tempatnya. Ia memanggil Lim Wasim, Hardjo Walujo (Kepala Rumah Tangga Kepresidenan), dan sebagian pegawai Istana. Di situ Bung Karno menghardik, "Jangan-jangan kalian semua maling! Maling!"


Soeharto

Presiden Soeharto atau Pak Harto menghuni Istana pada 1966-1998. Jagat kesenian relatif jauh dari benak Pak Harto. Lalu apa yang dilakukan Pak Harto atas ribuan benda seni di Istana Presiden yang diwariskan oleh Bung Karno? Jawaban atas itu didapat dari Lim Wasim, yang tetap dijadikan pelukis Istana (meski tanpa kerja) sampai 1968.

"Pak Harto tidak mengubah sebagian besar pajangan di semua Istana. Pak Harto seperti percaya bahwa peletakan benda seni yang dilakukan Bung Karno itu ada perhitungan mistiknya. Takut kualat. Tapi di sisi lain Pak Harto tidak mempedulikan yang tidak terpajang, sehingga ratusan lukisan dan keramik hilang."

Ketika sadar bahwa di Istana banyak maling, Pak Harto menganjurkan terbentuknya Sanggar Seni Rupa Istana Presiden. Lembaga ini bertanggung jawab atas semua benda seni di situ. Bila ada yang hilang lagi, sanggar itu yang digebuk. Menyadari bahwa dirinya tak memahami seni, Pak Harto lalu memberdayakan Joop Ave untuk mengatur isi kompleks seluruh Istana. Dengan begitu, selera interior dan eksterior Istana adalah selera Joop Ave. Dan ketika Joop Ave diganti Sampurno, keelokan Istana pun bergaya Sampurno. Pertanyaannya: bila Pak Harto "tunaseni", ke mana selera Ibu Tien Soeharto? Kurang jelas.

Namun tak berarti Ibu Tien tidak punya peran. Pada suatu ketika sang Ibu Negara mendadak punya permintaan. Dengan tidak mempedulikan "hitungan mistik" Bung Karno, ia menginstruksikan agar aneka lukisan dan patung bertema telanjang tidak dipajang di semua Istana. Itu sebabnya, selama hampir separuh pemerintahan Pak Harto, puluhan lukisan dan patung nude itu oleh Sanggar Seni Rupa Istana Presiden disekap dalam ruang tertutup di Istana Bogor.

Keberanian Ibu Tien itu mendorong Pak Harto ikut memindahkan satu (ya, satu saja) lukisan dari tempat asalnya. Lukisan itu adalah Jenderal Sudirman karya Yoes Soepadyo yang sudah terceritakan di atas. Lukisan ini lantas dipajang di Ruang Jepara, bilik besar untuk menerima tamu-tamu negara. Konon, pilihan Pak Harto atas lukisan tersebut berangkat dari penghormatan yang sifatnya historis. Jenderal Sudirman adalah komandannya pada era revolusi di Jawa Tengah. Lalu setiap kali televisi menyiarkan pertemuan Pak Harto dengan tamunya, Jenderal Sudirman selalu tampak menemaninya.


Habibie

Bacharuddin Jusuf Habibie menjabat Presiden RI pada 1998-1999. Sebelumnya, Pak Habibie adalah Wakil Presiden sejak 1997.

Sebagai ahli pesawat terbang, Pak Habibie ternyata serius menyalurkan hobinya dalam fotografi. Dari ribuan fotonya tampak bahwa ia memiliki jiwa seni. Maka, apabila menata interior dan eksterior Istana, dipastikan ia memiliki visi. Sayang, rasa seni itu tidak sempat berkembang lantaran jabatannya yang singkat. Dan karena kesibukannya yang hebat, kebijakan keindahan Istana diserahkan kepada Kepala Rumah Tangga Kepresidenan M. Basyuni.

Meski demikian, Pak Habibie sempat meninggalkan jejak khas di lingkup Istana Presiden. Misalnya, ia mencopot dua lukisan karya Basoeki Abdullah, Gatotkaca dan Pergiwa Pergiwati serta Joko Tarub, dari ruang resepsi Istana. Dua lukisan berukuran 255 x 170 sentimeter itu memaktubkan gambar wanita-wanita cantik dan sensual. "Lukisan itu bisa mengganggu pikiran penghuni ruangan. Saya sudah ingin menurunkan itu sejak saya jadi wakil presiden," katanya.

Lalu dinding lebar yang kosong melompong itu, atas anjuran Pak Habibie pula, diisi dengan dua cermin besar. Banyak yang terperanjat atas gagasan ini. Cermin raksasa di tengah ruang resepsi memang tak pernah ada di dunia. Habibie juga mengadakan pemugaran bagian belakang Istana Merdeka. Bagian dinding berkaca di situ dibongkar karena dianggap menciptakan sekat. Maka ruangan pun serta-merta berubah menjadi serambi. Dan di dinding serambi itu dipahat tujuh panil relief kaligrafi Arab yang terbuat dari gipsum. Kecenderungan pilihan ini tentulah berkonteks dengan latar hidup Pak Habibie yang sangat islamis, dan pernah menjadi petinggi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. *

*) Agus Dermawan T adalah Kritikus seni, penulis buku Istana-istana Presiden RI



Powered by:
Epaper Koran Tempo,
Jumat, 19 Agustus 2011