DUNIA YANG BUTUH INDONESIA, BUKAN SEBALIKNYA! “Dunia Takut Indonesia Mandiri”

Sunday, July 3, 2011

Oleh :
Dony Yusra Pebrianto, SH


Ada suatu kisah yang saya dapatkan dari Blackberry massenger yang cukup membuka lebar mata saya (dan semoga kita semua) akan kayanya indonesia dan politik ekonomi internasional. Berikut cerita tersebut:
Suatu pagi kami menjemput seorang klien di bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Si bapak adalah pengusaha asal singapura dengan logat bicara melayu dan English. Beliau menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya kepada kami yang masih muda. Beliau berkata “ur country is so rich!”. Ah….biasa banget denger kata-kata itu. Tapi tunggu dulu, ”indonesia doesn’t need need the world, but the worlds needs indonesia”, lanjutnya. “everything can be found here in Indonesia, u don’t need the world”.

“mudah saja, Indonesia paru-paru dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh indonesia!.

Singapura is nothing, we can’t be rich without indonesia. 500.000 orang Indonesia berlibur ke singapura tiap bulan. Bias terbayang uang yang masuk ke kami, apartemen-apartemen terbaru kami yang beli orang Indonesia, ga peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS kami, orang Indonesia semua yang berobat. trus, kalian tau bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya bener-bener panic. Sangat terasa, we area nothing. Kalian tahu kan kalo agustus kemaren dunia krisis beras. Termasuk di singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dengan mudahnya dapat beraslihatlah Negara kalian, air bersih dimana-mana, lihatlah Negara kami, air bersih pun kami beli di Malaysia.

Saya ke Kalimantan pun dalam rangka bisnis, karena pasirnya mengandung permata, terlihat glitter kalau ada matahari bersinar. Penambang jual Cuma Rp. 3rb/kg ke pabrik china, si pabrik jual kembali seharga Rp. 30 rb/kg. Saya lihat ini sebagai peluang. Kalian sadar tidak kalo negara-negara lain selalu takut mengembargo indonesia!.

Ya, negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak diembargo.harusnya KALIANLAH YANG MENGEMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dari petani-petani kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik-pabrik sendiri. Tak perlu impor kalo bisa produk sendiri.

Jika kalian bisa mandiri, bisa MENGEMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD~!!

Indonesia merupakan negara yang ikut serta dalam berbagai perjanjian perdagangan internasional, mulai dari Ratifikasi GATT hingga AFTA (ASEAN Free Trade Area). Isu sentral perdagangan bebas adalah menciptakan arus peredaran barang dan jasa internasional tanpa hambatan bahkan wacana pembebasan tarif impor terhadap barang dan jasapun semakin menggelora.

Hikmahanto Juwana seorang Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia dalam pidato pengukuhan guru besarnya di Universitas Indonesia mengungkapkan bahwa pergangan bebas hanya merupakan politik negara maju. Negara-negara berkembang seperti indonesia cenderung memproteksi usaha produksi nasional dengan membatasi jumlah barang-barang impor dengan berbagai upaya, dengan menaikkan tarif impor (UU kepabean menetapkan tarif impor sebanyak 40%). Namun hal tersebut menjadi mandul tatkala negara-negara berkembang ini harus menikuti kesepakatan-kesepakatan internasional yang berbasis free trade (perdagangan bebas).

Negara berkembang merupakan pangsa pasar paling menggiurkan bagi negara-negara maju. Pertimbangannya adalah masyarakat negara berkembang memiliki selera konsumtif lumayan tinggi. Selain itu ada suatu rasa gengsi yang lumayan tinggi terhadap barang impor. Tas buatan prancis, gaun buatan inggris, atau jas dan jeans produksi amerika terasa sangat membanggakan jika barang-barang tersebut menjadi konsumsi harian. Bukankah begitu?

Selain itu ada hal yang makin menggelikan, ternyata negara yang terkenal ijo royoroyo dan lumbung padi ini mengimpor beras dari vietnam. Apa jadinya seorang petani harus membeli beras?tidak habis pikir dibuatnya. Bukankah beras lokal kita tidak kalah saing? Beras Payo dari kerinci, beras solok, bandung bahkan medan sangatlah membanggakan. Semuanya merupakan dampak dari kebijakan perdagangan bebas.

Namun bukan berarti kita tidak perlu mengikuti perkembangan dunia seperti perdagangan bebas. Kita juga membutuhkan pangsa pasar untuk ekspor produksi lokal. Namun pertanyaannya sanggupkah produksi lokal kita bersaing?.

Menurut saya bukanlah kesiapan dan kesanggupan produksi lokal untuk bersaing yang patut dipertanyakan. Namun, sejauh mana pemerintah mampu mengembangkan dan memanajerial usaha produksi lokal agar memiliki pasar dan siap bersaing?. Bukankah ekonomi disusun dengan usaha bersama untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat?.

Ada beberapa langkah yang bisa diambil oleh pemerintah dalam menyelamatkan produksi nasional, yaitu sebagai berikut:
  1. Membuat suatu aturan hukum yang pro produksi lokal. Misalnya penetapan UU Kepabean dengan menerapkan ketentuan impor sedemikian rupa sehingga arus barang impor bisa terkontrol dan terkendali. Terkait implikasi dari kesepakatan internasional seperti halnya GATT dan AFTA kita bisa menggunakan teori keberlakuan hukum internasional ke dalam hukum nasional (teori inkorporasi dan teori transformasi).
  2. Memajukan usaha produksi nasional dengan mengembangkan usaha kecil menengah masyarakat sehingga usaha ini menghasilkan produksi siap saing dikancah dunia dengan harga dan kualitas yang sanggup bersaing.
  3. Cintailah produk-produk indonesia, jangan pernah malu karena kita negara berwibawa dan punya harga diri. Banggalah dengan INI BUATAN INDONESIA.

Memang betul ungkapan ” indonesia tidak butuh dunia bahkan sebaliknya”, namun bukanlah harus erta merta seperti itu. Mensinergikan hubungan simbiosis antara dunia dengan indonesia dan sebaliknya adalah jalan paling bijak. Agamapun mengajarkan untuk saling bersilaturrahmi dan bekerjasama walaupun ada perbedaan diantara kita. Dan ingatlah, tidak ada negara miskin, yang ada hanyalah missmenejer.(*)


(*) Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Program Pasca Sarjana Universitas Jambi, Aktif sebagai peneliti di Jambi Law Club (JLC)