Ada Apa Dengan Tanah Papua?Kenapa Dengan Kesejahteraan.

Monday, November 7, 2011

Oleh:
Dony Yusra Pebrianto, SH

Papua...sang berlian hitam bumi cendrawasih. Kaya akan sumber mineral yang tertanam ∂ΐ bawah kaki tanah cendrawasih. Kaya dan sangat kaya. Itulah tanah papua, Provinsi paling Timur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Akhir-akhir ini Papua kembali menjadi sorotan media massa. Betapa tidak, bentrok kembali melanda dan menimpa tanah sang cendrawasih. Ada apa dengan Papua?

Sebagaimana disebutkan pada awal tulisan ini, bahwa Papua adalah Tanah Kaya. Namun daerah ini kerap bergejolak bahkan tidak jarang wacana memerdekakan diri terlontar dari tanah Papua. Ada apa dengan Papua?

Masyarakat Papua sangatlah menyadari kekayaan tanah mereka. Apalagi tatkala memandang mega usaha Freeport yang menancapkan kukunya dalam-dalam pada tanah sang cendrawasih, namun tersibak tanya, apa yang telah diberikan freeport untuk Papua? Kenapa dengan kesejahteraan?

Banyak kantong yang makin terisi dari pundi-pundi freeport, bahkan selentingan kabarpun terdengar bahwa aparat negarapun turut mendapat "percikan" pundi-pundi freeport dengan dalih "biaya" keamanan. Lalu bagaimana dengan masyarakat Papua? Kenapa dengan kesejahteraan?

Ada apa dengan papua? Kenapa dengan kesejahteraan? Kontemplasi tanya yang sepatutnya terjawab, terutama oleh pemerintah guna mensinkronkan kepentingan "pundi" negara dan kesejahteraan masyarakat. Cendrawasih bukanlah sapi perah, bukan pula perawan yang tak boleh disentuh. Namun cendrawasih mengajarkan keberimbangan. Dan Pemerintah "belum" tahu itu.

Sudah saatnya masyarakat papua "mengecap" indahnya tanah suci cenderawasih. Mengembalikan hak masyarakat lokal. Dengan memberikan dan menuntut kontribusi dari "penggeruk" kekayaan sang cenderawasih.

Jangan salahkan Papua, bukan pula murni salah pemerintah. Karena semua memiliki peran dan tanggung jawab. Ada apa dengan Papua? Kenapa dengan cendrawasih? Pertanyaan yang "mesti" terjawab.

*Penulis adalah mahasiswa program pascasarjana Magister ilmu hukum Universitas Jambi, Peneliti pada Jambi Law Club
Powered by Telkomsel BlackBerry®