Oleh:
Rofiuddin *)
Satu lagi tokoh akan meramaikan bursa calon presiden dalam Pemilu 2014. Kali ini, mantan menkeu yang kini menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati akan diusung Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) menjadi capres. Memang belum ada konfirmasi kepastian apakah Sri Mulyani mengiyakan tawaran itu, lalu sejauh mana peluang dan tantangannya dalam Pilpres 2014.
Nama Sri Mulyani memang serta memiliki integritas dan etika politik yang baik. Dia disebut-sebut sebagai salah satu tokoh terbaik di Indonesia, dari kalangan profesional. Bahkan, namanya masuk jajaran 100 wanita paling berpengaruh di dunia versi Forbes. Berada di peringkat ke-23, ia mengalahkan nama beken lainnya, seperti Hillary Rodham Clinton, Aung San Suu Kyi, dan Oprah Winfrey.
Ketegasan dan pada saat menjadi menteri beberapa kabinet membuatnya selalu menjadi perhatian publik. Kecerdasan ide, gagasan, dan kepiawaiannya menghadapi berbagai persoalan bangsa, membuatnya selalu masuk dalam jajaran kabinet. Meski tak punya basis massa dan partai politik, beberapa presiden, selalu memasukan nama Sri ke kabinet.
Wanita itu baru keluar dari kabinet SBY saat ada gonjang-ganjing skandal Bank Century. Seperti sudah tak kuat menahan gempuran manuver dari para politikus, dia memilih hengkang dari jabatan menteri keuangan untuk menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia. Hengkangnya ke Bank Dunia justru membuatnya makin diperhitungkan karena tak sembarang orang bisa menjabat seperti dia di lembaga internasional.
Namun dalam pilpres, popularitas saja tak cukup. Tak akan ada gunanya popularitas tinggi tapi tak memiliki elektabilitas tinggi. Dulu, ada beberapa aktivis politik yang sangat populer dan mendirikan partai sebagai kendaraannya mencapai kekusaan. Sebut saja, Sri-Bintang Pamungkas, yang pada tahun 1999 sangat populer karena menjadi salah satu ikon perlawanan terhadap Orde Baru. Banyak pula tokoh yang memiliki konsep dan ide cemerlang, sebut saja Syahrir dan Rizal Ramli, yang juga mendirikan partai politik. Fakta, popularitas serta kecemerlangan ide dan gagasan tak bisa menjadi jaminan memenangi pemilu.
Banyak Kemungkinan
Kini, Partai SRI pun belum teruji karena belum pernah mengikuti pemilu. Partai itu disokong beberapa tokoh dan, seperti Arbi Sanit, Todung Mulya Lubis, Fikri Jufri, Rocky Gerung, Dana Iswara dan lain-lain. Karena sudah punya modal popularitas tinggi maka pengusung Sri Mulyani harus bisa mengelolanya secara baik.
Jika kelebihan Sri tak dikelola secara baik justru bisa menimbulkan efek negatif. Misalnya, akan digunakan bahan kampanye negatif lawan-lawan politiknya dengan menyebutnya sebagai agen neolib, antek IMF, agen kapitalisme hingga antek Yahudi. Kerasnya dunia politik, bisa saja isu itu akan bergulir menjelang pilpres nanti.
Tantangan lain yang harus dikelola secara baik adalah soal dugaan keterlibatan Sri Mulyani dalam skandal penyelamatan Bank Century. Isu ini mendapatkan perhatian besar dari publik karena diduga merugikan keuangan negara hingga Rp 6,7 triliun. Politikus di Senayan pernah menggunakan isu ini untuk menyerang Sri Mulyani dan Wapres Boediono. Ditengarai, hengkangnya Sri ke Bank Dunia tak lepas dari kerasnya serangan para politikus tersebut. Kini, skandal Bank Century seperti sudah terkubur. Namun, jika Sri hendak tampil di perpolitikan di Indonesia maka lawan-lawan politiknya bisa saja membuka keranda itu.
Penjelasan tentang penyelamatan Bank Century yang dilakukan Sri Mulyani inilah yang harus dikelola secara baik. Jika tidak maka munculnya nama dia seperti akan membuka keranda skandal Bank Century lagi.
Langkah lain yang harus secepatnya dilakukan adalah menjadikan Partai SRI bisa meraup dukungan rakyat. Jika tak memeroleh dukungan secara memadai maka akan menyulitkan jalan Sri masuk dalam bursa capres karena harus mencari kendaraan politik lain.
Pelaksanaan pemilihan capres masih lama. Banyak kemungkinan terjadinya peristiwa politik dan banyak manuver politik yang bisa dilakukan pengusung Sri Mulyani untuk memuluskan jalan menuju RI-1. Di sisi lain, lawan politik banyak manuver dari lawan politik untuk mengganjal peluang wanita tersebut. (*)
*) Penulis adalah alumnus Magister Ilmu Komunikasi FISIP Undip
Source: Suara Merdeka, 5 Agustus 2011