![]() |
| Photo Google.com |
Oleh:
Agus Dermawan T
Bung Karno Merdeka, Pak Harto Takut Kualat, Habibie Islami
Sejak 17 Agustus 1945, Indonesia telah memiliki enam presiden. Dan keenam presiden itu menempati istana-istana yang sama, yakni Istana Negara dan Istana Merdeka di Jakarta, Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Yogyakarta (Gedung Agung), Istana Tampaksiring di Bali, dan Istana (peristirahatan) Tenjoresmi di Pelabuhan Ratu. Dalam setiap kekuasaannya, semua presiden mengelola Istana dengan selera pribadinya. Maka Istana pun punya enam rasa: dari rasa Bung Karno sampai rasa Susilo Bambang Yudhoyono. Mari kita cicipi "enam rasa Istana" itu.
Bung Karno
Presiden Sukarno atau Bung Karno sungguh lekat dengan kesenian. Dan kesenian itu, terutama seni rupa, membawanya menjadi kolektor sejati, connoisseur. Selama menjadi presiden pada 1945-1966, ia memiliki koleksi seni rupa sekitar 2.200. Karya seni itu sebagian besar dikumpulkan di semua Istana.
Ketika koleksinya membutuhkan penataan serius, ia mencari ahli seni untuk menangani. Pada 1950, Dullah, yang juga dikenal sebagai pejuang, diposisikan sebagai pelukis Istana Presiden. Setelah Dullah mundur pada 1960, Bung Karno mengangkat pelukis Lee Man Fong dan Lim Wasim untuk menggantikannya. Pengangkatan dua pelukis berbasis Tiongkok ini ada hubungannya dengan situasi politik kala itu, yang beraroma poros Jakarta-Peking.
Namun, meski Bung Karno punya pelukis Istana Presiden, tak berarti segala yang tertata di semua interior dan eksterior diatur oleh pelukis Istana. Menurut Dullah, Bung Karno punya konsep pribadi yang kuat, sehingga dengan merdeka ia bertindak karepe dewe (semaunya sendiri). Suatu hal yang acap melahirkan pertengkaran dengan pelukis Istana yang sesungguhnya sudah diberi mandat.
Untungnya, Bung Karno tahu seni serta memahami interior dan pertamanan. Tinggi-rendah fondasi patung, posisi keramik, sampai peletakan paku gantungan lukisan, Bung Karnolah yang menentukan. Dan ia hanya mau memajang karya yang secara teknik perfek dan secara visual indah. "A thing of beauty is joy forever", begitu ia sering berujar. Seminggu sekali ia keliling taman dan keluar-masuk kamar Istana, mengecek keindahan yang digagasnya.
Penempatan itu tak hanya berkaitan dengan estetikanya, tapi juga berhubungan dengan tema yang tersurat dalam karya. Istana Merdeka, misalnya, dipajangi lukisan yang bertema revolusi. Istana Negara diisi seni dari berbagai negara. Istana Tampaksiring dihiasi karya bertema Bali. Sementara itu, di berbagai dinding kamar, lukisan-lukisan bunga dan wanita seksi ramah menyapa.
Yang unik, sang Presiden sungguh hafal letak setiap karya yang dipajangnya. Suatu ketika pada 1961, ia mendapati lukisan Jenderal Sudirman karya Yoes Soepadyo tak ada di tempatnya. Ia memanggil Lim Wasim, Hardjo Walujo (Kepala Rumah Tangga Kepresidenan), dan sebagian pegawai Istana. Di situ Bung Karno menghardik, "Jangan-jangan kalian semua maling! Maling!"
Soeharto
Presiden Soeharto atau Pak Harto menghuni Istana pada 1966-1998. Jagat kesenian relatif jauh dari benak Pak Harto. Lalu apa yang dilakukan Pak Harto atas ribuan benda seni di Istana Presiden yang diwariskan oleh Bung Karno? Jawaban atas itu didapat dari Lim Wasim, yang tetap dijadikan pelukis Istana (meski tanpa kerja) sampai 1968.
"Pak Harto tidak mengubah sebagian besar pajangan di semua Istana. Pak Harto seperti percaya bahwa peletakan benda seni yang dilakukan Bung Karno itu ada perhitungan mistiknya. Takut kualat. Tapi di sisi lain Pak Harto tidak mempedulikan yang tidak terpajang, sehingga ratusan lukisan dan keramik hilang."
Ketika sadar bahwa di Istana banyak maling, Pak Harto menganjurkan terbentuknya Sanggar Seni Rupa Istana Presiden. Lembaga ini bertanggung jawab atas semua benda seni di situ. Bila ada yang hilang lagi, sanggar itu yang digebuk. Menyadari bahwa dirinya tak memahami seni, Pak Harto lalu memberdayakan Joop Ave untuk mengatur isi kompleks seluruh Istana. Dengan begitu, selera interior dan eksterior Istana adalah selera Joop Ave. Dan ketika Joop Ave diganti Sampurno, keelokan Istana pun bergaya Sampurno. Pertanyaannya: bila Pak Harto "tunaseni", ke mana selera Ibu Tien Soeharto? Kurang jelas.
Namun tak berarti Ibu Tien tidak punya peran. Pada suatu ketika sang Ibu Negara mendadak punya permintaan. Dengan tidak mempedulikan "hitungan mistik" Bung Karno, ia menginstruksikan agar aneka lukisan dan patung bertema telanjang tidak dipajang di semua Istana. Itu sebabnya, selama hampir separuh pemerintahan Pak Harto, puluhan lukisan dan patung nude itu oleh Sanggar Seni Rupa Istana Presiden disekap dalam ruang tertutup di Istana Bogor.
Keberanian Ibu Tien itu mendorong Pak Harto ikut memindahkan satu (ya, satu saja) lukisan dari tempat asalnya. Lukisan itu adalah Jenderal Sudirman karya Yoes Soepadyo yang sudah terceritakan di atas. Lukisan ini lantas dipajang di Ruang Jepara, bilik besar untuk menerima tamu-tamu negara. Konon, pilihan Pak Harto atas lukisan tersebut berangkat dari penghormatan yang sifatnya historis. Jenderal Sudirman adalah komandannya pada era revolusi di Jawa Tengah. Lalu setiap kali televisi menyiarkan pertemuan Pak Harto dengan tamunya, Jenderal Sudirman selalu tampak menemaninya.
Habibie
Bacharuddin Jusuf Habibie menjabat Presiden RI pada 1998-1999. Sebelumnya, Pak Habibie adalah Wakil Presiden sejak 1997.
Sebagai ahli pesawat terbang, Pak Habibie ternyata serius menyalurkan hobinya dalam fotografi. Dari ribuan fotonya tampak bahwa ia memiliki jiwa seni. Maka, apabila menata interior dan eksterior Istana, dipastikan ia memiliki visi. Sayang, rasa seni itu tidak sempat berkembang lantaran jabatannya yang singkat. Dan karena kesibukannya yang hebat, kebijakan keindahan Istana diserahkan kepada Kepala Rumah Tangga Kepresidenan M. Basyuni.
Meski demikian, Pak Habibie sempat meninggalkan jejak khas di lingkup Istana Presiden. Misalnya, ia mencopot dua lukisan karya Basoeki Abdullah, Gatotkaca dan Pergiwa Pergiwati serta Joko Tarub, dari ruang resepsi Istana. Dua lukisan berukuran 255 x 170 sentimeter itu memaktubkan gambar wanita-wanita cantik dan sensual. "Lukisan itu bisa mengganggu pikiran penghuni ruangan. Saya sudah ingin menurunkan itu sejak saya jadi wakil presiden," katanya.
Lalu dinding lebar yang kosong melompong itu, atas anjuran Pak Habibie pula, diisi dengan dua cermin besar. Banyak yang terperanjat atas gagasan ini. Cermin raksasa di tengah ruang resepsi memang tak pernah ada di dunia. Habibie juga mengadakan pemugaran bagian belakang Istana Merdeka. Bagian dinding berkaca di situ dibongkar karena dianggap menciptakan sekat. Maka ruangan pun serta-merta berubah menjadi serambi. Dan di dinding serambi itu dipahat tujuh panil relief kaligrafi Arab yang terbuat dari gipsum. Kecenderungan pilihan ini tentulah berkonteks dengan latar hidup Pak Habibie yang sangat islamis, dan pernah menjadi petinggi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. *
*) Agus Dermawan T adalah Kritikus seni, penulis buku Istana-istana Presiden RI
Sejak 17 Agustus 1945, Indonesia telah memiliki enam presiden. Dan keenam presiden itu menempati istana-istana yang sama, yakni Istana Negara dan Istana Merdeka di Jakarta, Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Yogyakarta (Gedung Agung), Istana Tampaksiring di Bali, dan Istana (peristirahatan) Tenjoresmi di Pelabuhan Ratu. Dalam setiap kekuasaannya, semua presiden mengelola Istana dengan selera pribadinya. Maka Istana pun punya enam rasa: dari rasa Bung Karno sampai rasa Susilo Bambang Yudhoyono. Mari kita cicipi "enam rasa Istana" itu.
Bung Karno
Presiden Sukarno atau Bung Karno sungguh lekat dengan kesenian. Dan kesenian itu, terutama seni rupa, membawanya menjadi kolektor sejati, connoisseur. Selama menjadi presiden pada 1945-1966, ia memiliki koleksi seni rupa sekitar 2.200. Karya seni itu sebagian besar dikumpulkan di semua Istana.
Ketika koleksinya membutuhkan penataan serius, ia mencari ahli seni untuk menangani. Pada 1950, Dullah, yang juga dikenal sebagai pejuang, diposisikan sebagai pelukis Istana Presiden. Setelah Dullah mundur pada 1960, Bung Karno mengangkat pelukis Lee Man Fong dan Lim Wasim untuk menggantikannya. Pengangkatan dua pelukis berbasis Tiongkok ini ada hubungannya dengan situasi politik kala itu, yang beraroma poros Jakarta-Peking.
Namun, meski Bung Karno punya pelukis Istana Presiden, tak berarti segala yang tertata di semua interior dan eksterior diatur oleh pelukis Istana. Menurut Dullah, Bung Karno punya konsep pribadi yang kuat, sehingga dengan merdeka ia bertindak karepe dewe (semaunya sendiri). Suatu hal yang acap melahirkan pertengkaran dengan pelukis Istana yang sesungguhnya sudah diberi mandat.
Untungnya, Bung Karno tahu seni serta memahami interior dan pertamanan. Tinggi-rendah fondasi patung, posisi keramik, sampai peletakan paku gantungan lukisan, Bung Karnolah yang menentukan. Dan ia hanya mau memajang karya yang secara teknik perfek dan secara visual indah. "A thing of beauty is joy forever", begitu ia sering berujar. Seminggu sekali ia keliling taman dan keluar-masuk kamar Istana, mengecek keindahan yang digagasnya.
Penempatan itu tak hanya berkaitan dengan estetikanya, tapi juga berhubungan dengan tema yang tersurat dalam karya. Istana Merdeka, misalnya, dipajangi lukisan yang bertema revolusi. Istana Negara diisi seni dari berbagai negara. Istana Tampaksiring dihiasi karya bertema Bali. Sementara itu, di berbagai dinding kamar, lukisan-lukisan bunga dan wanita seksi ramah menyapa.
Yang unik, sang Presiden sungguh hafal letak setiap karya yang dipajangnya. Suatu ketika pada 1961, ia mendapati lukisan Jenderal Sudirman karya Yoes Soepadyo tak ada di tempatnya. Ia memanggil Lim Wasim, Hardjo Walujo (Kepala Rumah Tangga Kepresidenan), dan sebagian pegawai Istana. Di situ Bung Karno menghardik, "Jangan-jangan kalian semua maling! Maling!"
Soeharto
Presiden Soeharto atau Pak Harto menghuni Istana pada 1966-1998. Jagat kesenian relatif jauh dari benak Pak Harto. Lalu apa yang dilakukan Pak Harto atas ribuan benda seni di Istana Presiden yang diwariskan oleh Bung Karno? Jawaban atas itu didapat dari Lim Wasim, yang tetap dijadikan pelukis Istana (meski tanpa kerja) sampai 1968.
"Pak Harto tidak mengubah sebagian besar pajangan di semua Istana. Pak Harto seperti percaya bahwa peletakan benda seni yang dilakukan Bung Karno itu ada perhitungan mistiknya. Takut kualat. Tapi di sisi lain Pak Harto tidak mempedulikan yang tidak terpajang, sehingga ratusan lukisan dan keramik hilang."
Ketika sadar bahwa di Istana banyak maling, Pak Harto menganjurkan terbentuknya Sanggar Seni Rupa Istana Presiden. Lembaga ini bertanggung jawab atas semua benda seni di situ. Bila ada yang hilang lagi, sanggar itu yang digebuk. Menyadari bahwa dirinya tak memahami seni, Pak Harto lalu memberdayakan Joop Ave untuk mengatur isi kompleks seluruh Istana. Dengan begitu, selera interior dan eksterior Istana adalah selera Joop Ave. Dan ketika Joop Ave diganti Sampurno, keelokan Istana pun bergaya Sampurno. Pertanyaannya: bila Pak Harto "tunaseni", ke mana selera Ibu Tien Soeharto? Kurang jelas.
Namun tak berarti Ibu Tien tidak punya peran. Pada suatu ketika sang Ibu Negara mendadak punya permintaan. Dengan tidak mempedulikan "hitungan mistik" Bung Karno, ia menginstruksikan agar aneka lukisan dan patung bertema telanjang tidak dipajang di semua Istana. Itu sebabnya, selama hampir separuh pemerintahan Pak Harto, puluhan lukisan dan patung nude itu oleh Sanggar Seni Rupa Istana Presiden disekap dalam ruang tertutup di Istana Bogor.
Keberanian Ibu Tien itu mendorong Pak Harto ikut memindahkan satu (ya, satu saja) lukisan dari tempat asalnya. Lukisan itu adalah Jenderal Sudirman karya Yoes Soepadyo yang sudah terceritakan di atas. Lukisan ini lantas dipajang di Ruang Jepara, bilik besar untuk menerima tamu-tamu negara. Konon, pilihan Pak Harto atas lukisan tersebut berangkat dari penghormatan yang sifatnya historis. Jenderal Sudirman adalah komandannya pada era revolusi di Jawa Tengah. Lalu setiap kali televisi menyiarkan pertemuan Pak Harto dengan tamunya, Jenderal Sudirman selalu tampak menemaninya.
Habibie
Bacharuddin Jusuf Habibie menjabat Presiden RI pada 1998-1999. Sebelumnya, Pak Habibie adalah Wakil Presiden sejak 1997.
Sebagai ahli pesawat terbang, Pak Habibie ternyata serius menyalurkan hobinya dalam fotografi. Dari ribuan fotonya tampak bahwa ia memiliki jiwa seni. Maka, apabila menata interior dan eksterior Istana, dipastikan ia memiliki visi. Sayang, rasa seni itu tidak sempat berkembang lantaran jabatannya yang singkat. Dan karena kesibukannya yang hebat, kebijakan keindahan Istana diserahkan kepada Kepala Rumah Tangga Kepresidenan M. Basyuni.
Meski demikian, Pak Habibie sempat meninggalkan jejak khas di lingkup Istana Presiden. Misalnya, ia mencopot dua lukisan karya Basoeki Abdullah, Gatotkaca dan Pergiwa Pergiwati serta Joko Tarub, dari ruang resepsi Istana. Dua lukisan berukuran 255 x 170 sentimeter itu memaktubkan gambar wanita-wanita cantik dan sensual. "Lukisan itu bisa mengganggu pikiran penghuni ruangan. Saya sudah ingin menurunkan itu sejak saya jadi wakil presiden," katanya.
Lalu dinding lebar yang kosong melompong itu, atas anjuran Pak Habibie pula, diisi dengan dua cermin besar. Banyak yang terperanjat atas gagasan ini. Cermin raksasa di tengah ruang resepsi memang tak pernah ada di dunia. Habibie juga mengadakan pemugaran bagian belakang Istana Merdeka. Bagian dinding berkaca di situ dibongkar karena dianggap menciptakan sekat. Maka ruangan pun serta-merta berubah menjadi serambi. Dan di dinding serambi itu dipahat tujuh panil relief kaligrafi Arab yang terbuat dari gipsum. Kecenderungan pilihan ini tentulah berkonteks dengan latar hidup Pak Habibie yang sangat islamis, dan pernah menjadi petinggi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. *
*) Agus Dermawan T adalah Kritikus seni, penulis buku Istana-istana Presiden RI
Powered by:
Epaper Koran Tempo,
Jumat, 19 Agustus 2011
