Perang Jatinegara: Antara Fakta dan Persepsi

Friday, August 26, 2011

Oleh:
Asvi Warman Adam


Dua ratus tahun lalu, tepatnya tanggal 4 sampai dengan 26 Agustus 1811, berlangsung perang yang amat dahsyat di Batavia di antara dua negara adidaya di dunia saat itu, yakni Inggris melawan Prancis. Inggris mengerahkan 12 ribu tentara, termasuk pasukan asal India. Pasukan yang berangkat dengan 100 buah kapal dari Madras, India Selatan, merupakan armada terbesar yang dikirim Inggris ke Timur Jauh sebelum Perang Dunia II. Sementara itu, Batavia dipertahankan oleh 6.000 serdadu Prancis, Belanda, dan pribumi. Pertempuran sengit terjadi di Meester Cornelis (sekarang daerah Matraman/Jatinegara) pada 26 Agustus dua abad silam. 

Sejarawan Indonesia dan Eropa kurang menyoroti peristiwa penting ini. Peperangan ini terjadi pada masa interregnum zaman peralihan awal abad XIX ketika Indonesia (masa itu disebut Hindia Timur) dikuasai berturut-turut oleh Belanda, Prancis, dan Inggris. Belanda berada di bawah kekuasaan Prancis sejak 1795. Napoleon Bonaparte mengangkat adiknya, Louis Napoleon, sebagai penguasa di negeri Belanda pada 1806. Louis kemudian mengirim William Daendels untuk menjadi gubernur jenderal (1808-1811). Daendels membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan sebagai sarana pertahanan menghadapi serangan Inggris. Daendels kemudian digantikan oleh Janssens, yang gagal mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Perang itu merupakan kelanjutan dari peperangan yang telah berkecamuk di Eropa, yang dikenal juga sebagai perang Napoleon. 

Bulan ini telah terbit edisi terjemahan buku yang ditulis oleh dua kubu yang berlawanan mengenai perang tersebut. Buku pertama karya William Thorn, Penaklukan Pulau Jawa: Pulau Jawa di Abad Sembilan Belas dari Amatan Seorang Serdadu Kerajaan Inggris, yang pertama kali terbit pada 1815 di London. Naskah ini merupakan catatan pelaku sejarah yang terlibat langsung dalam peperangan dan ditulis tidak lama setelah peristiwa terjadi. 

Buku kedua ditulis oleh Jean Rocher, berjudul Perang Napoleon di Jawa dan Kekalahan Memalukan Gubernur Jenderal Janssens. Kolonel Jean Rocher adalah mantan Atase Pertahanan Kedutaan Besar Prancis di Jakarta (1993-1997) yang menulis kisah perang itu dua abad kemudian dan dalam bentuk novel sejarah setelah melalui penelitian kearsipan. Yang mana di antara kedua jenis buku di atas yang lebih mengungkapkan hal yang sebenarnya terjadi pada masa lalu? Terlebih dulu akan diulas perbandingan antara sastra dan sejarah.

 
Novel dan sejarah 

Sekarang sebagian orang tidak lagi menganggap sastra sebagai wilayah estetika yang otonom. "Manusia, karya, dan genre sastra tidak bergerak dalam ex nihilo, tetapi ia dipersiapkan dan dikondisikan oleh suatu konteks historiko-sosiologis", demikian kata George Lukacs dalam Le Roman Historique (Payot, 1965). Bahkan, tentang roman historis sendiri, Lukacs berpendapat bahwa "genre itu menjadikan sejarah sebagai obyeknya, tetapi ia sendiri juga takluk kepada sejarah dan berenang di dalamnya". 

Pendekatan New Historicism yang dicanangkan oleh Stephen Greenblaat pada 1982, sebagaimana dijelaskan oleh Melani Budianta (dalam majalah Susastra 3 tahun 2006), dapat menjadi pilihan dalam menganalisis karya sastra, sastra sejarah, dan sejarah secara utuh. Louis A. Montrose menggunakan istilah "kesejarahan sastra dan kesastraan sejarah atau dengan kata lain membaca sastra = membaca sejarah, dan membaca sejarah = membaca sastra (aspek sejarah sebagai konstruksi sosial)". Lebih jauh dijelaskan, Sejarah atau dunia yang diacu oleh karya sastra bukan sekadar latar belakang (yang koheren dan menyatu). Sejarah sendiri terdiri atas berbagai teks yang masing-masing menyusun versi tentang kenyataan. Keterkaitan antara karya sastra dan "sejarah" adalah kaitan intertekstual antara berbagai teks (fiksi maupun faktual) yang diproduksi pada zaman yang sama atau berbeda. 


Inggris dan Prancis 

Mayor William Thorn adalah perwira Inggris dalam operasi penaklukan Jawa pada 1811 yang bertugas antara lain mengonsep surat perintah dari komandan lapangan kepada para anak buahnya atau laporan kepada atasannya. Karena itu, ia memiliki data yang lengkap, misalnya mengenai sebuah operasi termasuk prajurit yang gugur dalam suatu penyerbuan. 

Selain memuji keberanian rekan-rekannya, William Thorn menonjolkan betapa tentara Inggris sangat menghormati hak asasi manusia dalam pertempuran di Jawa. Demikian pula dalih ekspedisi pasukan Inggris ke Palembang untuk menjatuhkan Sultan Mahmud Badarudin II adalah kekejaman Sultan terhadap rakyatnya. Dari sudut pandang Indonesia tentu tidaklah demikian, bahkan berlawanan. Sultan Badarudin telah diangkat sebagai pahlawan nasional pada 1984, bahkan wajahnya menghias mata uang Rp 10 ribu. Ia dianggap berjasa memimpin perlawanan rakyat melawan Inggris dan Belanda sehingga ditangkap dan diasingkan ke Ternate. 

Jean Rocher membela nama baik Prancis dengan menumpahkan kesalahan kepada Gubernur Jenderal Janssens serta pasukannya yang suka mabuk. Diakuinya bahwa tentara Inggris memang dipersiapkan dan dipimpin dengan baik. Bahkan perang itu menampilkan operasi amfibi yang cantik, mungkin yang paling besar selama abad XIX. 

Sebaliknya, pasukan Prancis-Belanda memiliki kepemimpinan yang buruk. Gubernur Jenderal Janssens lebih cakap mengurus logistik ketimbang memimpin pasukan. Sementara itu, hubungan antara Janssens dan bawahannya, Jenderal Jumel, tidaklah baik seperti digambarkan dengan sinis bahwa Jenderal Jumel "telah menemukan cara bagaimana supaya ia tertangkap oleh musuh". 

Pasukan Prancis-Belanda, yang tidak punya strategi yang jelas serta koordinasi dengan para perwira yang buruk serta motivasi yang kurang pada para prajurit, ternyata kalah telak. Seandainya pasukan Inggris di Cilincing dihadang di pantai dan digempur dengan meriam, mereka akan kocar-kacir dan kembali ke laut. Namun mereka dibiarkan masuk kota, bahkan sampai dekat sekali ke benteng pertahanan di Jatinegara. Penyebab kekalahan fatal ini tidak lain dari kepemimpinan Gubernur Jenderal yang lemah. *


*) Asvi Warman Adam, Sejarawan LIPI


Source: Koran Tempo, Jumat 26 Agustus 2011
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!