"Hari itu, 1 Oktober 1965, sekitar pukul 08.30, sebuah mobil VW Kodok dan sebuah Jeep memasuki halaman depan Markas Koops. Letkol Soeparto yang bertindak sebagai pengemudi mobil VW Kodok dan seorang pengawal yang duduk di sampingnya turun dengan cepat?. Barulah terakhir turun dari VW Kodok, Bung Karno didampingi oleh Brigjen Soenarjo, Jaksa Agung Muda. Kehadiran Bung Karno di Markas Koops disambut oleh Men/Pangau Laksdya Udara Omar Dani dan Panglima Koops Komodor Udara Leo Wattimena serta langsung dipersilahkan masuk ke ruang kerja Panglima di markas Koops?."
(Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani) Untuk 32 tahun lamanya, salah satu tanda tanya besar yang dibiarkan hidup oleh pemerintah Orde Baru adalah: mengapa Bung Karno berada di Halim pada tanggal l Oktober 1965. Kemudian yang terjadi adalah sebuah kesimpulan bahwa Halim adalah markas PKI. Buku pleidoi Omar Dani ini paling tidak akan menguak kabut yang mengungkung Halim?lengkap beserta warga Angkatan Udara?dari sisi pengalamannya.
Di dalam buku inilah, Omar Dani memberi kesaksian bahwa, "Sesuai Standard Operating Procedure (SOP), Resimen Cakrabirawa, salah satu cara untuk menyelamatkan Kepala Negara jika terjadi sesuatu hal dan situasi keamanan sangat mendesak adalah membawa Presiden ke PAU Halim Perdana Kusuma. Di sana selalu disiagakan pesawat kepresidenan C-140 Jetstar atau pesawat AURI lainnya sesuai kebutuhan." Berikut adalah beberapa petikan dari buku setebal 316 halaman itu. Subjudul diberikan oleh redaksi, untuk mempermudah pemahaman pembaca.
Kesaksian Omar Dani tentang Brigjen Soepardjo, yang Datang ke Halim Perdana Kusuma Pada 1 Oktober 1965 (halaman 69-70)
Sepuluh menit kemudian, datanglah Brigjen Soepardjo di Markas Koops. Ia bertemu dengan Laksdya Udara Omar Dani di ruang sekretaris Panglima Koops yang sekaligus menjadi ruang tunggu tamu Panglima, memberi hormat dan menyampaikan maksudnya ingin melaporkan langsung kepada Presiden. Setelah melepas sebuah pistol dari pinggangnya dan meletakkannya di meja sekretaris panglima Koops di ruang tunggu, barulah dipersilahkan masuk ke ruang Panglima Koops, tempat Bung Karno berada. Ia melapor langsung kepada Presiden bahwa bersama kawan-kawan ia telah mengambil tindakan terhadap para perwira tinggi Angkatan Darat. Para perwira di lingkungan Angkatan Darat dan para bawahan mengeluh atas sikap, kelakuan, ketidakpedulian para jendral terhadap bawahannya. Atas pertanyaan Bung Karno apakah Pardjo punya bukti, Soepardjo mengiyakan dan sanggup mengambilnya di MBAD bila ia diperintahkan. Bung Karno memberi perintah untuk mengambilnya bila ia diperintahkan. Bung Karno memberi perintah untuk mengambilnya, tetapi sampai menghilangnya pada 2 Oktober 1965, Soepardjo tidak pernah dapat menyerahkan bukti-bukti itu kepada Bung Karno. Presiden memerintahkan Brigjen Soepardjo untuk menghentikan gerakannya, untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah. Presiden juga menolak permintaan Brigjen Soepardjo untuk mendukung G-30-S. Begitu ditolak permintaannya oleh Presiden Sukarno, Brigjen Soepardjo langsung berpamitan dan pergi keluar dari Markas Koops. Tampak di wajahnya sedikit kusut, capai, kurang tidur dan kecewa.
Telepon Soeharto kepada AURI di Halim (halaman 73-74)
Siang hari itu suasana di rumah Komodor Udara Soesanto tampak tenang, tidak ada sesuatu yang mengindikasikan ketegangan. Tiba-tiba, Brigjen Sabur menyampaikan satu berita telpon kepada Waperdam II Dr. Leimena dan Jaksa Agung Brigjen Soetardjo, Men/Pangal dan Men/Pangak. Keempat pejabat itu membahasnya dengan sangat serius, namun pejabat yang lainnya termasuk Men/Pangau Laksdya Omar Dani tidak mengetahui apa yang mereka bahas karena tidak diajak bicara. Kelak di kemudian hari, baru dapat diketahui bahwa isi berita telpon yang diterima dan dibahas dengan serius oleh Waperdam II dan Jaksa Agung itu berasal dari Panglima Kostrad, Mayjen Soeharto, yang meminta dengan tegas agar Presiden Sukarno segera meninggalkan PAU Halim. Tampaknya, pada saat itu Soeharto yang mengatakan bahwa "Bung Karno berada di tempat yang salah", sudah menganggap Men/Pangau sebagai musuhnya yang mempunyai maksud tertentu terhadap Bung Karno dan dia (Soeharto-Red.) sendiri sebagai protektor Bung Karno. Namun demikian, baik Dr. Leimena maupun Brigjen. Soetardio, Men/Pangal dan Men/Pangak belum berani menyampaikan berita telepon itu kepada Presiden. Bahkan kepada Men/Pangau pun berita itu juga tidak disampaikan. Di sinilah Soeharto sudah mulai memecah belah para menteri yang sedang berada di PAU Halim.
Pembangkangan Soeharto (halaman 76)
Tiba-tiba ada laporan bahwa seluruh aliran listrik di Jakarta akan dimatikan. Presiden langsung marah dan memerintahkan ajudan untuk segera memanggil Pangdam V Jaya Mayjen Jen. Umar Wirahadikusuma untuk menghadap beliau. Siang hari itu juga, Kolonel KKO Bambang Widjanarko diperintahkan ke Panglima Kostrad untuk menyampaikan keputusan Presiden tersebut. Kedua jendral yang hari itu dipanggil oleh Presiden/Panglima Tertinggi ABRI, yaitu Pranoto Reksosamodra dan Umar Wirahadikusuma tidak dapat hadir memenuhi panggilan, karena tidak diijinkan oleh Panglima Kostrad Mayjen Soeharto. Dengan demikian indikasi adanya sikap insubordinasi Soeharto mulai terlihat, antara lain sikap tidak taat dan melawan perintah atasan, apa pun alasannya.
Sumber:http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2001/01/29/LK/mbm.20010129.LK77336.id.html
(Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani) Untuk 32 tahun lamanya, salah satu tanda tanya besar yang dibiarkan hidup oleh pemerintah Orde Baru adalah: mengapa Bung Karno berada di Halim pada tanggal l Oktober 1965. Kemudian yang terjadi adalah sebuah kesimpulan bahwa Halim adalah markas PKI. Buku pleidoi Omar Dani ini paling tidak akan menguak kabut yang mengungkung Halim?lengkap beserta warga Angkatan Udara?dari sisi pengalamannya.
Di dalam buku inilah, Omar Dani memberi kesaksian bahwa, "Sesuai Standard Operating Procedure (SOP), Resimen Cakrabirawa, salah satu cara untuk menyelamatkan Kepala Negara jika terjadi sesuatu hal dan situasi keamanan sangat mendesak adalah membawa Presiden ke PAU Halim Perdana Kusuma. Di sana selalu disiagakan pesawat kepresidenan C-140 Jetstar atau pesawat AURI lainnya sesuai kebutuhan." Berikut adalah beberapa petikan dari buku setebal 316 halaman itu. Subjudul diberikan oleh redaksi, untuk mempermudah pemahaman pembaca.
Kesaksian Omar Dani tentang Brigjen Soepardjo, yang Datang ke Halim Perdana Kusuma Pada 1 Oktober 1965 (halaman 69-70)
Sepuluh menit kemudian, datanglah Brigjen Soepardjo di Markas Koops. Ia bertemu dengan Laksdya Udara Omar Dani di ruang sekretaris Panglima Koops yang sekaligus menjadi ruang tunggu tamu Panglima, memberi hormat dan menyampaikan maksudnya ingin melaporkan langsung kepada Presiden. Setelah melepas sebuah pistol dari pinggangnya dan meletakkannya di meja sekretaris panglima Koops di ruang tunggu, barulah dipersilahkan masuk ke ruang Panglima Koops, tempat Bung Karno berada. Ia melapor langsung kepada Presiden bahwa bersama kawan-kawan ia telah mengambil tindakan terhadap para perwira tinggi Angkatan Darat. Para perwira di lingkungan Angkatan Darat dan para bawahan mengeluh atas sikap, kelakuan, ketidakpedulian para jendral terhadap bawahannya. Atas pertanyaan Bung Karno apakah Pardjo punya bukti, Soepardjo mengiyakan dan sanggup mengambilnya di MBAD bila ia diperintahkan. Bung Karno memberi perintah untuk mengambilnya bila ia diperintahkan. Bung Karno memberi perintah untuk mengambilnya, tetapi sampai menghilangnya pada 2 Oktober 1965, Soepardjo tidak pernah dapat menyerahkan bukti-bukti itu kepada Bung Karno. Presiden memerintahkan Brigjen Soepardjo untuk menghentikan gerakannya, untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah. Presiden juga menolak permintaan Brigjen Soepardjo untuk mendukung G-30-S. Begitu ditolak permintaannya oleh Presiden Sukarno, Brigjen Soepardjo langsung berpamitan dan pergi keluar dari Markas Koops. Tampak di wajahnya sedikit kusut, capai, kurang tidur dan kecewa.
Telepon Soeharto kepada AURI di Halim (halaman 73-74)
Siang hari itu suasana di rumah Komodor Udara Soesanto tampak tenang, tidak ada sesuatu yang mengindikasikan ketegangan. Tiba-tiba, Brigjen Sabur menyampaikan satu berita telpon kepada Waperdam II Dr. Leimena dan Jaksa Agung Brigjen Soetardjo, Men/Pangal dan Men/Pangak. Keempat pejabat itu membahasnya dengan sangat serius, namun pejabat yang lainnya termasuk Men/Pangau Laksdya Omar Dani tidak mengetahui apa yang mereka bahas karena tidak diajak bicara. Kelak di kemudian hari, baru dapat diketahui bahwa isi berita telpon yang diterima dan dibahas dengan serius oleh Waperdam II dan Jaksa Agung itu berasal dari Panglima Kostrad, Mayjen Soeharto, yang meminta dengan tegas agar Presiden Sukarno segera meninggalkan PAU Halim. Tampaknya, pada saat itu Soeharto yang mengatakan bahwa "Bung Karno berada di tempat yang salah", sudah menganggap Men/Pangau sebagai musuhnya yang mempunyai maksud tertentu terhadap Bung Karno dan dia (Soeharto-Red.) sendiri sebagai protektor Bung Karno. Namun demikian, baik Dr. Leimena maupun Brigjen. Soetardio, Men/Pangal dan Men/Pangak belum berani menyampaikan berita telepon itu kepada Presiden. Bahkan kepada Men/Pangau pun berita itu juga tidak disampaikan. Di sinilah Soeharto sudah mulai memecah belah para menteri yang sedang berada di PAU Halim.
Pembangkangan Soeharto (halaman 76)
Tiba-tiba ada laporan bahwa seluruh aliran listrik di Jakarta akan dimatikan. Presiden langsung marah dan memerintahkan ajudan untuk segera memanggil Pangdam V Jaya Mayjen Jen. Umar Wirahadikusuma untuk menghadap beliau. Siang hari itu juga, Kolonel KKO Bambang Widjanarko diperintahkan ke Panglima Kostrad untuk menyampaikan keputusan Presiden tersebut. Kedua jendral yang hari itu dipanggil oleh Presiden/Panglima Tertinggi ABRI, yaitu Pranoto Reksosamodra dan Umar Wirahadikusuma tidak dapat hadir memenuhi panggilan, karena tidak diijinkan oleh Panglima Kostrad Mayjen Soeharto. Dengan demikian indikasi adanya sikap insubordinasi Soeharto mulai terlihat, antara lain sikap tidak taat dan melawan perintah atasan, apa pun alasannya.
Sumber:http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2001/01/29/LK/mbm.20010129.LK77336.id.html