Menyematkan Nilai Pancasila

Thursday, June 2, 2011

Masduri


Tanggal 1 Juni adalah Hari Kelahiran Pancasila, sekaligus Hari Anak Sedunia. Kedua hari itu merupakan momen penting bagi bangsa Indonesia. Karena anak-anak yang masih kecil, esok yang akan memimpin dan meneruskan perjuangan bangsa. Mereka adalah harapan masa depan, penentu arah kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Kita dapat menyaksikan bagaimana peliknya persoalan bangsa di negeri ini. Korupsi, keadilan, kekerasan, kemiskinan, pengangguran, dan diskriminasi menjadi aneka warna sajian keseharian bangsa Indonesia. Selesai persoalan yang satu, muncul persoalan baru. Begitulah pergantian masalah bangsa kita. Hampir dikata, bangsa ini tak putus-putus dari masalah.

Momen kedua hari penting ini bisa menjadi pelajaran bagi ibu dan bapak anak-anak bangsa Indonesia. Pasti mereka tidak ingin jika anaknya kelak menjadi manusia yang tidak berguna bagi bangsa. Apalagi menjadi aktor persoalan yang diresahkan bangsa. Telah cukup ibu dan bapak anak-anak Indonesia gagal (sekalipun tidak seratus persen) mendidik anak-anaknya di masa lalu. Hingga mereka saat ini tidak becus mengurus negara.

Kegagalan mendidik anak-anak dapat kita lihat dari maraknya praktek korupsi, kekerasan, diskriminasi dan sekian persoalan lainnya. Aktor-aktor dari persoalan ini adalah mereka yang gagal dididik. Mereka mungkin tahu jika korupsi itu tidak baik, kekerasan itu mengganggu keamanan, dan diskriminasi merugikan bangsa. Tetapi mereka tidak bisa mengimplementasikan pengetahuannya itu, karena tidak ada kesadaran dan kebiasaan yang diajarkan pada mereka sejak kecil.

Cukup kegagalan masa lalu, dan tidak boleh kita ulang di masa depan. Ke depan bangsa ini membutuhkan penerus yang terdidik dengan baik, dan bisa mengimplementasikan pengetahuannya dalam tindakan konkret.


Anak Berkarakter Pancasila

Hari lahir Pancasila adalah hari lahir karakter bangsa Indonesia. Kelima poin dalam Pancasila merupakan falsafah bangsa yang dapat jadi rujukan setiap tindakan bangsa Indonesia. Kalau kita berharap kehidupan bangsa maju dan sejahtera, kuncinya ada dalam kelima sila tersebut.

Sudah semestinya ibu dan bapak anak-anak Indonesia mendidik anak mereka dengan nilai luhur Pancasila. Jika mereka berharap anaknya kelak dapat berguna bagi bangsa. Karena dengan menyematkan nilai Pancasila pada anak, kelak anak tersebut bisa berkarakter kokoh.

Nilai-nilai Pancasila mengajarkan rasa nasionalisme yang tinggi sebagai bangsa kesatuan Republik Indonesia. Poin Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan kita tentang beragama yang baik, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, serta tidak menyalahkan mereka yang tidak sepaham dan sekeyakinan sama.

Pluralitas dan multikulturalisme sudah jamak kita mafhumi sebagai kemutlakan bangsa Indonesia. Dengan mengajarkan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, anak-anak bangsa tidak akan melakukan tindakan kekerasan dan teror. Serta pula tindakan korupsi yang jelas-jelas dilarang agama.

Kemanusian Yang Adil dan Beradab menjadi titik penentu kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Sejak kecil anak-anak bangsa perlu diajarkan sikap adil dan bijak, serta beradab yang tinggi. Kebiasaan sejak kecil akan terus berkarakter, jika ibu dan bapak anak-anak bangsa memiliki perhatian dan kepedulian bagi masa depan anaknya.

Begitu pula dengan sila Persatuan Indonesia. Sila ini mengajarkan anak-anak kita bersatu dan bekerja sama, sekalipun berbeda latar belakang. Misalnya mereka diajarkan bersikap ramah dan suka bersahabat dengan anak-anak tetangganya. Hingga mereka sadar, bahwa hidup itu tidak sendiri, dan kunci dari kemajuan bangsa adalah bersatu dan bekerja sama.

Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan mengajarkan anak-anak bangsa menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang tidak apatis dan peduli pada kepentingan bersama. Setidaknya dapat mengajarkan pada diri mereka menjadi pemimpin yang baik bagi diri dan keluarganya.

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia adalah sila terakhir, sekaligus kunci kesejahteraan bersama. Anak bangsa dari sila ini dapat belajar menjadi pemimpin, hakim, ekonom, dan pendidik yang adil. Menjadi anak-anak yang peduli pada sesama. Merasa senasib antarsaudara se-Tanah Air. Turut simpati dan empati terhadap penderitaan saudaranya.

Pancasila adalah karakter bangsa Indonesia yang terlupa. Saya yakin, jika ibu dan bapak anak-anak bangsa bisa berkomitmen tinggi mendidik anaknya dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Bangsa kita di masa depan akan jauh dari praktek korupsi, diskriminasi, kekerasan, teror, ketidakadilan, hingga sekian persoalan lainya, yang kita hadapi saat ini.

Ibu dan bapak anak bangsa boleh gagal di masa lalu, tapi masa depan masih menantang peluh mereka mendidik anaknya penuh perhatian dan kepedulian. Hingga falsafah bangsa yang ditelurkan Mpu Tantular “Bhinneka Tunggal Ika” jauh sebelum bangsa ini merdeka, dan akhirnya dirumuskan menjadi dasar negara pada 1 Juni 1945 oleh Soekarno bisa menjadi karakter anak-anak bangsa di masa depan. Selamat Hari Anak Sedunia dan Hari Kelahiran Pancasila!


(Sumber: Lampung Post, 1 Juni 2011)